Chindo News

Informasi berita, sosial, budaya, etnik, militer, teknologi, dari negara China.

Chindonews.blogspot.com

Informasi berita, sosial, budaya, etnik, militer, teknologi, dari negara China. .

China-Indonesian Information

Informasi berita, sosial, budaya, etnik, militer, teknologi, dari negara China..

Pameran Mobile

Pameran Mobil Internasional.

Pertukaran Budaya

Kebudayaan adalah sesuatu hal yang baru yang menghasilkan nilai budaya.

Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Saturday, January 6, 2018

Ciri-ciri Opera Guangdong

Aksi Kung Fu, yaitu seni bela diri, yang dipersembahkan oleh para aktor, dengan kostumnya yang mewah, serta tata rias wajah aktor yang begitu cantik, opera ini sangat disukai dalam masyarakat lokal. itulah ciri-ciri Opera Guangdong di selatan China.

Opera Guangdong yang telah menyerap berbagai bentuk seni lokal, seperti seni musik, seni bordir, seni ukiran dan seni tembikar ini, telah memperlihatkan seni budaya Guangdong yang istimewa. Jadi, opera ini juga sangat digemari olehseluruh masyarakat China.






Monday, October 2, 2017

Mekap muka khas opera Puju

Mekap muka merupakan seni rias pada wajah aktor untuk menggambarkan sifat karakter. Mekap muka bagi opera Puju ini, baik cara melukisnya, maupun warna dan garisnya, semuanya cukup sederhana, tapi benar-benar tepat untuk menggambarkan sifat karakter, serta latar belakang keluarga mereka dan pengalaman mereka yang penting.

Mekap muka opera Puju ini memiliki keistimewaan tersendiri. Muka merah mengacu pada karakter yang setia. Muka hitam mengacu pada karakter yang jujur dan terus terang. Muka putih mengacu pada karakter yang licik dan jahat. Muka hijau mengacu kepada pahlawan yang gagah berani. Sementara muka berwarna keemasan pula mengacu kepada dewa-dewi atau hantu.


Tuesday, June 6, 2017

36 Taktik Peperangan perihal Lepaskan Kulit Serangga

Maksud dari "Lepaskan Kulit Serangga" adalah, setelah serangga bersalin kulit, jasad serangga itu telah keluar dari kulitnya, hanya tinggal kulit yang sudah kering masih tergantung di tempat asal. Jika kita tidak membuat pengamatan yang teliti, pasti kita anggap serangga itu masih berada di situ.

Dalam buku 36 Taktik Peperangan, penjelasan tentang taktik "Lepaskan Kulit Serangga" adalah seperti yang berikut: ketika Anda dalam keadaan terdesak, dan Anda hanya memiliki kesempatan untuk melarikan diri dan harus membentuk tim, buatlah sebuah ilusi. Sementara perhatian musuh terfokus atas muslihat yang anda lakukan, pindahkan pasukan anda secara rahasia sehingga selamat dari situasi yang bahaya. Taktik ini sering digunakan dalam kondisi kita lebih lemah dibandingkan dengan pihak musuh.

Pada abad ke-3 Masehi, China berada dalam kondisi terpecah dan diduduki oleh pemerintah tiga negara yaitu Negara Wei, Negara Shu dan Negara Wu. Raja ketiga negara itu semua bercita-cita untuk merebut kekuasaan untuk menyatukan wilayah China. Mereka masing-masing telah berusaha untuk mendapatkan cendekiawan yang pandai dan bijaksana untuk membantu mengalahkan pihak musuh. Maka, pertempuran antara tiga negara itu terjadi dari waktu ke waktu.

Antara para cendekiawan di ketiga negara itu, Perdana Menteri Negara Shu, Zhuge Liang adalah yang paling pandai cerdik dan memiliki kewibawaan yang tinggi karena berhasil memimpin tentara negeri Shu dalam peperangan sekian lama. Dengan mengetahui kepandaiannya, kepala militer dua negara yang lain pun gentar akan kehebatan Zhuge Liang. Oleh sebab itu, mereka selalu berhati-hati ketika berhadapan dengan tentara yang dipimpin oleh Zhuge Liang.

Suatu masa dulu, Zhuge Liang pernah memimpin sejumlah besar tentara Negeri Shu bertolak dari daerah selatan untuk menyerang negeri Wei di utara China. Sementara itu, raja negeri Wei juga telah mengerahkan tentara elitnya untuk menangkis serangan tentara negeri Shu. Dalam periode konfrontasi militer kedua negara itu, Zhuge Liang telah jatuh sakit dan kondisi kesehatannya menjadi semakin hari semakin parah. Zhuge Liang tahu bahwa ia adalah satu-satunya orang yang mampu memimpin tentara negeri Shu dan membuat para prajurit bersemangat. Jika dia meninggal, militer negeri Shu pasti akan gagal dalam pertempuran itu dan pengunduran merupakan satu-satunya pilihan yang bijak. Yang menjadi masalah, jika tentara negeri Shu melakukan penarikan secara tiba-tiba, tentara negara Wei pasti akan mengejar mereka untuk menghapus kekuatan militer negeri Shu secara habis-habisan dan tentara negeri Shu akan mengalami kematian dan cedera yang serius. Setelah mempertimbangkan kondisi itu, Zhuge Liang secara rahasia telah mengajarkan cara para pasukan ke hulubalang, Jiang Wei.

Tidak lama kemudian, Zhuge Liang telah meninggal dunia ketika tentara kedua negara itu masih berada dalam kondisi konfrontatif. Hulubalang Jiang Wei telah menghambat mengeluarkan kabar tentang kepergian ketuanya sebagaimana yang diajarkan oleh Zhuge Liang. Dia telah memerintahkan tukang dalam tentaranya membikin satu patung kayu Zhuge Liang macam duduk di dalam sebuah kendaraan. Dengan begitu, Jiang Wei memimpin militer negeri Shu membawa mayat Zhuge Liang memulai pengunduran.

Seperti yang disangka oleh Zhuge Liang, panglima tentara negara Wei mengerahkan pasukannya untuk mengejar tentara Shu. Jiang Wei pula mengirim sejumlah besar pasukannya berpura-pura sudah siaga melancarkan serangan terhadap pasukan negara Wei. Setelah melakukan pengamatan dari tempat jauh, panglima tentara negara Wei menemukan bahwa tentara negeri Shu terlihat disiplin dan penuh antusias dengan pimpinan Zhuge Liang yang duduk di dalam kendaraannya. Dengan mengetahui kehebatan Zhuge Liang, panglima tentara negara Wei menyangsikan bahwa ini mungkin satu lagi trik yang dilakukan oleh Zhuge Liang. Jadi, dia telah memerintahkan pasukannya mundur supaya menghindari dari terkena tipu muslihat itu.

Dengan kesempatan itu, hulubalang Jiang Wei segera mentransfer kekuatan utama tentaranya ke tempat yang aman. Ketika panglima militer negeri Wei menerima kabar kematian Zhuge Liang adalah sudah terlambat untuk mengejar kekuatan utama pihak musuh.

Perdana Menteri negeri Shu, Zhuge Liang telah berhasil menggunakan taktik "Lepaskan Kulit Serangga" untuk melindungi tentaranya dari risiko dihapus dengan menggunakan trik untuk melarikan diri secara rahasia.

Monday, June 5, 2017

"36 Taktik Peperangan" Berteman dengan Negara Jauh dan Menyerang Negara Tetangga

36 Taktik Peperangan merupakan sebuah buku yang di dalamnya terkandung 36 taktik perang yang digunakan pada zaman kuno di China dan diwarisi sampai hari ini. Taktik-taktik perang yang terkandung di dalam buku itu telah digunakan di China dalam jangka waktu yang panjang dan telah menjadi inti kebudayaan tradisi China. Pada saat ini, "36 Taktik Peperangan" telah disesuaikan untuk strategi dalam berbagai bidang, diantaranya meliputi politik, diplomasi, ilmu manajemen, perdagangan dan lain-lain.

Dalam "36 Taktik Peperangan" tidak banyak bagian yang menjelaskan tentang teori perang, sebaliknya kandungannya lebih difokuskan pada praktek praktis strategi perang.

"36 Taktik Peperangan" merupakan rumusan buah pikiran anggota militer yang terunggul pada zaman kuno Tiongkok. Setiap taktik memiliki tujuan yang jelas dan bersifat praktis. Kebanyakan taktik tersebut lebih mementingkan perubahan tindakan yang tidak diharapkan saat bertempur dengan musuh. 36 Taktik Peperangan diketahui oleh umum melalui berbagai cara. Ada taktik yang dikenal dengan nama judul opera, peribahasa atau peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah China. Dengan demikian, orang lebih mudah untuk memahami teori dan ilmu militer yang terkandung di dalam buku itu.

Taktik "Berteman dengan Negara Jauh dan Menyerang Negara Tetangga" berasal dari satu pertempuran yang terkenal dalam sejarah China.

Pada abad ke-3 SM, China berada dalam Periode Negara-negara Berperang. Tatkala itu, konflik antara berbagai negara terjadi dari waktu ke waktu. Demi kepentingan masing-masing, mereka terkadang saling bersekutu, kadangkala saling bermusuhan pula, dan ini menyebabkan situasi menjadi sangat rumit. Negeri Qin yang terletak di bagian barat laut China adalah antara negara yang paling cepat berkembang pada masa itu. Maka negeri itu mulai merencanakan untuk merebut kekuasaan negara-negara yang lain dan bercita-cita untuk menyatukan China pada akhirnya. Pada saat itu, Negara Qi yang terletak di bagian timur China juga merupakan sebuah kekuatan besar. Raja Negeri Qin awalnya memang berniat menghapus Negeri Qi yang jauh di timur karena khawatir akan kemungkinan terjadinya konflik dengan Negeri Qi untuk merebut kekuasaan pemerintahan seluruh China pada suatu hari nanti. Namun, penasihat raja Qin, Fan Sui membantah rencana baginda itu. Fan Sui berpendapat bahwa perjalanan dari Negeri Qin ke Negeri Qi terlalu jauh dan akan melalui Negeri Han dan Negara Wei. Tindakan untuk menyerang Negeri Qi membutuhkan pengerahan tenaga sejumlah besar tentara, baru mungkin tentara negeri itu dapat dikalahkan. Akan tetapi, jika mereka melakukannya, pertahanan di wilayah Negeri Qin akan menjadi lemah, dan ada risiko ibu kota mereka sendiri diserang oleh negara yang lain dalam periode tersebut. Fan Sui menyarankan bahwa serangan terhadap Negeri Han dan Negeri Wei yang bertetangga dengan Negeri Qin patut dilaksanakan sebelumnya, dan ancaman Negeri Qi ditangani kemudian. Dalam pada itu, untuk mencegah ketiga negara tersebut memiliki hubungan afiliasi, Negeri Qin patut mengambil inisiatif untuk bersekutu dengan Negara Qi dahulu.

Raja Negeri Qin berkenan menerima rekomendasi Fan Sui dan melaksanakan kebijakan berteman dengan negara yang terletak jauh dari kawasan yaitu Negeri Qi dan Negara Chu. Sementara itu, militer Negeri Qin telah menduduki beberapa buah negeri kecil yang dekat dan sekaligus menyatukan bagian barat laut China. Selanjutnya pemerintah Qin telah menghapus Negeri Chu di selatan dan Negara Qi di timur dan akhirnya menyatukan China. Dengan itu, Kaisar Qin Shihuang telah mendirikan rezim pemerintah pusat yang pertama dalam sejarah China.

Dalam buku "36 Taktik Peperangan", penjelasan tentang taktik "Berteman dengan Negara Jauh dan Menyerang Negara Tetangga" berbunyi begini: ketika sesuatu sasaran militer susah dicapai karena diblokir oleh geografinya, kita patut menyerang musuh yang dekat dahulu dan tidak menyerang sasaran yang berlokasi jauh dari kita itu. Untuk mencegah musuh-musuh menjalin hubungan afiliasi, kita harus menggunakan cara apapun untuk memecahkan mereka kepada faksi-faksi, sehingga kita dapat menghapus mereka satu demi satu pada suatu hari nanti. Jika diteliti, berteman dengan negara jauh sebenarnya merupakan satu taktik menunda, agar ada waktu dan tidak berperang dengan terlalu banyak musuh sekaligus. Setelah kita menghilangkan musuh di sekitar kita, teman yang jauh pula menjadi target baru kita. Penjelasan tambahan terhadap taktik tersebut berbunyi, dalam situasi yang rumit, berteman dengan musuh di sekitar kita sangatlah bahaya karena kita selalu terkena ancaman mereka dan mudah pula diserang oleh mereka. Maka, kita harus menghapus ancaman yang tersembunyi di sekitar kita dahulu sebelum menyerang target yang lebih jauh.

Taktik "Berteman dengan Negara Jauh dan Menyerang Negara Tetangga" dapat dikatakan bersifat tipu daya, dan hoax itu mudah diketahui atau disadari oleh manusia. Dalam kondisi yang rumit yang melibatkan berbagai kekuatan politik dan militer yang saling bersaing, pengguna taktik ini mencapai kesuksesan karena dia mengetahui bahwa pasukan yang lain semuanya khawatir akan mengalami kerugian karena terlibat dalam peperangan terlebih dahulu, dan ingin aman untuk seketika. Bagi Negeri Qi yang kena tipu muslihat itu, mereka mungkin mengetahui cita-cita Negeri Qin di balik kebijakan berteman dengannya, tetapi mereka memilih untuk berteman juga dengan Negeri Qin karena tidak memiliki keyakinan untuk menewaskannya tatkala itu. Maka, Negara Qi memilih untuk membuat perjanjian damai sementara dari bermusuh dengan Negeri Qin.

Saturday, June 3, 2017

"36 Taktik Peperangan" Tutup Pintu untuk Menangkap Pencuri

36 Taktik Peperangan merupakan sebuah buku yang di dalamnya terkandung 36 taktik perang yang digunakan pada zaman kuno di China dan diwarisi sampai hari ini. Taktik-taktik perang yang terkandung di dalam buku itu telah digunakan di China dalam jangka waktu yang panjang dan telah menjadi inti kebudayaan tradisi China. Pada saat ini, "36 Taktik Peperangan" telah disesuaikan untuk strategi dalam berbagai bidang, diantaranya meliputi politik, diplomasi, ilmu manajemen, perdagangan dan lain-lain.

Dalam "36 Taktik Peperangan" tidak banyak bagian yang menjelaskan tentang teori perang, sebaliknya lebih terfokus pada penggunaan praktis strategi perang.

"36 Taktik Peperangan" merupakan rumusan buah pikiran anggota militer yang terunggul pada zaman kuno China. Setiap taktik memiliki tujuan yang jelas dan bersifat praktis. Kebanyakan taktik tersebut lebih mementingkan perubahan yang tidak diharapkan saat bertempur dengan musuh. 36 Taktik Peperangan diketahui oleh umum melalui berbagai cara. Ada taktik yang diberi nama dengan judul opera, peribahasa atau peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah China. Dengan demikian, orang lebih mudah untuk memahami teori dan ilmu militer yang terkandung di dalam buku itu.

"Tutup Pintu untuk Menangkap Pencuri" adalah pepatah lama yang telah dipakai sejak turun-temurun. Dari judul taktik tersebut sudah dapat kita menangkap maksud yang hendak disampaikan, yaitu menarik pencuri masuk ke lingkungan yang dapat kita kontrol, kemudian menutup pintu untuk menangkapnya. Penggunaan taktik itu terbukti efektif dalam peperangan zaman kuno China.

Dalam bidang militer, taktik "Tutup Pintu untuk Menangkap Pencuri" sama artinya dengan taktik "Mengepung dan Memusnahhabiskan" yang sering digunakan dalam peperangan.

Dalam buku "36 Taktik Peperangan", penjelasan tentang taktik tersebut berbunyi, tujuan "tutup pintu" adalah untuk mencegah musuh dari melepaskan diri, karena jika dibiarkan musuh melepaskan diri, ini akan menanam bibit konflik baru. Tapi, jika musuh berhasil melarikan diri, kita harus berhati-hati jika mengejar mereka supaya tidak terjebak dalam tipu muslihat mereka. Selanjutnya, satu pertempuran yang terjadi pada zaman kuno China supaya saudara lebih memahami maksud taktik "Tutup Pintu untuk Menangkap Pencuri".

Pada tahun 880 Masehi, pasukan pemberontak petani yang dipimpin oleh Huang Chao telah menawan Chang'an, ibu kota kerajaan Dinasti Tang. Tapi, raja Dinasti Tang sempat melarikan diri sebelum pasukan pemberontak memasuki kota itu. Baginda telah memerintahkan pasukan pemerintah di tempat lain supaya berkumpul di luar kota itu untuk merebut kembali kota Chang'an. Setelah kedua pihak berkonfrontasi selama setahun, pasukan pemerintah telah pulih semangat dan siap untuk bertempur dengan pasukan pemberontak di kota tersebut.

Mengingat jumlah tentara pemerintah sangat besar dan kota Chang'an tidak tahan lagi karena terlalu lama dikepung, Huang Chao memutuskan mengundurkan pasukannya dari kota Chang'an setelah mengevaluasi situasi keseluruhan.

Sebelum tentara pemerintah melancarkan serangan terhadap kota Chang'an, mereka sama sekali tidak tahu pasukan pemberontak sudah mundur dari kota itu. Di luar dugaan mereka, serbuan mereka tidak mengalami tangkisan. Kemenangan yang terlalu mudah didapat itu telah membuat para anggota tentara pemerintah sungguh gembira sehingga tidak lagi waspada terhadap gerakan pasukan pemberontak yang sudah lari.

Sementara itu, Huang Chao telah mengirim orang untuk mendapatkan informasi intelijen dalam kota Chang'an. Ketika diberikan pengarahan tentang kondisi dalam kota itu, Huang Chao mengatakan, "musuh sudah masuk perangkap". Pada tengah malam hari itu, pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Huang Chao telah berkejar kembali ke kota Chang'an dan melancarkan serangan tajam terhadap kota itu. Bisa dibayangkan, bagaimana tentara pemerintah yang sama sekali tidak menyangka serangan itu akan terjadi, telah mengalami kematian dan cedera yang serius. Dengan menggunakan taktik "Tutup Pintu untuk Menangkap Pencuri", pasukan pemberontak telah berhasil mengalahkan pasukan pemerintah yang mempertahankan kota Chang'an dan sekali lagi menduduki kota itu.

Menghayati cerita tersebut, apa yang dapat kita pelajari adalah, jika kita memiliki kesempatan untuk menangkap seluruh musuh maka lakukanlah bersungguh-sungguh sehingga pertempuran segera berakhir. Jika musuh berhasil melepaskan diri, situasi akan menjadi lebih rumit. Ketika melakukan pengejaran, kita harus berhati-hati supaya tidak terjebak dalam tipu muslihat mereka. Jadi, yang paling penting adalah kita harus mengambil kesempatan ketika dapat memusnahhabiskan musuh dan jangan memberi kesempatan kepada mereka untuk melepaskan diri.

Friday, June 2, 2017

Cerita 36 Taktik Peperangan "Menunjuk ke pohon murbei, tetapi mengutuk pada pohon lotus"

"36 Taktik Peperangan" adalah sebuah buku klasik yang berisi 36 taktik perang yang tidak hanya digunakan pada zaman kuno bahkan diwariskan sampai ke zaman ini di China. Pada saat ini, "36 Taktik Peperangan" telah disesuaikan untuk strategi dalam berbagai bidang, diantaranya meliputi politik, diplomasi, ilmu-ilmu manajemen, perdagangan dan lain-lain.

Dalam "36 Taktik Peperangan" tidak banyak bagian yang menjelaskan tentang teori perang, sebaliknya lebih terfokus pada penggunaan praktis strategi perang. Setiap taktik, memiliki tujuan yang jelas dan bersifat praktis.

Salah satu strategi dalam 36 taktik perang itu adalah "Menunjuk ke pohon murbei, tetapi mengutuk pohon lokus".

Dari judul taktik tersebut, sudah dapat kita tangkap maksud yang hendak disampaikan, yaitu mencela pihak A, tetapi dengan maksud memberikan ancaman kepada pihak B. Pribahasa itu juga memiliki banyak sinonim dalam bahasa Mandarin, misalnya "menunjuk ayam, tetapi berniat mengutuk anjing". Taktik itu awalnya adalah metode untuk memberikan rekomendasi kepada jenderal tentang cara untuk mengatur pasukannya dalam peperangan. Menurutnya, untuk menciptakan disiplin yang ketat, jenderal hanya perlu menghukum kasus yang khas dengan berat, dan tindakan itu dapat memberikan pengajaran yang efektif kepada prajurit yang lain. Sekarang, pribahasa itu dianggap sebagai satu metode diplomasi dalam komunikasi antara orang modern. Seseorang itu tidak perlu menyebut nama orang yang dimaksudkannya, cukup hanya dengan menyebut kasus orang lain dengan tujuan memberi ancaman kepada orang itu; tidak mengadakan dialog langsung dengan seseorang, tetapi menceritakan hal-hal yang lain dengan sengaja dan memiliki maksud tertentu di belakangnya ..

Thursday, June 1, 2017

Cerita taktik peperangan berlagak berani

Di China ada pepatah yang berbunyi bahwa "Tiupu Daya Tidak Pernah Berakhir pada Perang". Taktik "Berlagak Berani" berarti, jika kekuatan pertahanan sebuah kota kurang, pihak yang mempertahankan kota itu bolehlah membiarkan kondisi itu, kecurigaan pihak musuh akan bertambah. Jika tidak siap menghadapi musuh yang kuat, ahli strategi yang berpengalaman dan berani biasanya memperdaya musuh dengan cara memberi gambaran bahwa penduduk di kota itu hidup aman tenteram. Dengan itu, musuhnya akan menganggap bahwa ada tentara yang berjumlah besar bermarkas di Kota itu, dan mereka akan mundur karena takut.

Berdasarkan catatan sejarah, taktik tersebut digunakan pada awal abad ke-7 SM. Taktik itu diketahui oleh umum ketika digunakan oleh ahli strategi terkenal pada zaman kuno China, yaitu Zhuge Liang, dalam satu perang yang penting.

Penggunaan taktik itu diceritakan dengan hidup sekali dalam buku klasik kuno China, "Roman Pemerintah Tiga Negeri". Pada zaman pemerintah tiga negara itu, yaitu kira-kira pada abad ke-3, Negeri Wei, Negeri Shu dan Negara Wu menjadi tiga negara yang paling kuat. Ahli strategi negeri Shu, Zhuge Liang sangat bijaksana, sementara, penasihat Raja Negeri Wei, Sima Yi juga cerdik. Dalam satu pertempuran, tentara di bawah Zhuge Liang gagal mempertahankan satu tempat strategis, yaitu Jieting. Sima Yi memimpin pasukan yang berjumlah 150.000 orang menuju ke kota basis militer Zhuge Liang. Tapi, Zhuge Liang hanya memiliki 5000 orang tentara yang bermarkas di kota itu. Untuk menghadapi musuh yang besar dan kuat ini, Zhuge Liang berlagak berani dan tenang. Dia menempatkan tentara yang berjumlah kecil itu di luar kota, dan membuka semua pintu kota itu. Pada setiap pintu, 20 orang prajurit menyamar menjadi orang sipil dan menyapu jalan. Orang sipil dan prajurit yang lain disuruh berada di rumah dengan tenang. Pada saat itu, Zhuge Liang naik ke menara di atas pintu kota dengan membawa dua orang pengiring lalu memainkan alat musik.

Ketika menyaksikan suasana yang sangat santai itu, Sima Yi rasa terkejut dan curiga, mungkin tentara dengan jumlah yang besar sudah ditempatkan dalam kota itu, dan sedang menunggu mereka. Maka dia pun mengundurkan pasukannya.

Zhuge Liang menggunakan kecurigaan Sima Yi dan menangkis serangan tentara yang berjumlah 150.000 orang dengan taktik itu. "Berlagak Berani" adalah taktik yang berisiko. Mundur ke daerah yang aman atau membawa masuk tentara tambahan harus dilaksanakan segera setelah taktik itu digunakan.

Wednesday, May 31, 2017

Cerita tentang Taktik cederakan diri dengan Sengaja

Biasanya, manusia tidak akan melukai diri sendiri. Namun, "Taktik cederakan diri dengan Sengaja" tidak sesuai kelaziman itu. Untuk suatu maksud yang tersembunyi atau kepentingan strategis jangka panjang, seseorang akan memperdayakan dan menghancurkan musuh dengan cara menyiksa diri sendiri sehingga memperoleh kemenangan.

Pada Zaman Chunqiu, yaitu sekitar 2.000 tahun yang lalu, seorang bangsawan yang bernama He Lu telah membunuh Raja Negeri Wu, Liao dan merebut kekuasaan darinya. Sejak itu, Raja He Lu selalu berupaya untuk meningkatkan produksi dan mengambil pejabat yang bijak untuk mengelola negara. Dengan demikian, kekuatan Negeri Wu kian bertambah. Namun, He Lu tetap khawatir bahwa anak lelaki Liao, Qing Ji, akan membalas dendam terhadap kudeta yang dilakukannya. Sesungguhnya, Qing Ji memang sedang merencanakan untuk menumpas Raja He Lu.

Untuk menghilangkan kekhawatiran itu, He Lu memerintahkan pegawainya, Wu Zixu supaya membunuh Qing Ji. Wu Zixu pula mecadangkan supaya tugas itu dilaksanakan oleh seorang perwira yang pintar, namanya Yao Li.

Ketika melihat perwira itu, He Lu mengatakan: "Kamu pendek lagi kurus, bagaimana membunuh Qing Ji yang tinggi lagi kuat?"

"Ini tergantung pada bakat saya", kata Yao Li, "Jika saya bisa mendekatinya, semua masalah akan selesai."

"Qing Ji amat berhati-hati terhadap orang yang tidak dikenalnya. Bagaimana kamu akan mendekatinya?"

"Saya akan meminta Raja memotong lengan saya dan membunuh istri saya. Dengan demikian, Qing Jin akan percaya pada saya."

Raja He Lu tidak mau menerima saran itu. Yao Li menambahkan, "Saya bersedia mengorbankan nyawa saya untuk tanah air." Akhirnya, He Lu setuju menggunakan strategi tersebut.

Tidak lama kemudian, rumor tentang He Lu yang membunuh raja dan merebut kekuasaan itu tersebar di seluruh negeri Wu. He Lu menyuruh pegawainya menyelidiki hal ini. Beliau diberitahu bahwa rumor itu disebarkan oleh seorang warga yang bernama Yao Li. Jadi, Yao Li dan istrinya ditangkap. Ketika ditemukan Raja He Lu, dia mencaci dan memaki beliau. He Lu sangat marah, lalu memotong lengannya dan menempatkan istrinya ke dalam penjara. Beberapa hari kemudian, rumor tentang Yao Li yang melarikan diri dan istrinya tewas tersebar di seluruh negeri, bahkan sampai ke negeri tetangganya.

Sebenarnya, Yao Li melarikan diri ke tempat Qing Ji dan menceritakan pengalaman yang pahit itu kepada beliau. Beberapa lama kemudian, dia berhasil menjadi pengiring Qing Ji, dan selalu mengajukan proposal tentang bagaimana menggagalkan Negeri Wu dan mendapatkan kembali kekuasaan pemerintahan kepada beliau. Akhirnya, Qing Ji mengambil cadangannya dan memimpin tim untuk menumpas negeri itu. Dalam perjalanan itu, Yao Li telah menikam dada Qing Ji dengan lembing.

Sebenarnya, semua usaha tersebut direncanakan oleh pejabat Wu Zixu. Karena Qing Ji amat berhati-hati terhadap orang yang tidak dikenal, maka Wu Zixu menggunakan "Taktik cederakan diri dengan Sengaja". Meskipun Yao Li dan istrinya tewas, tetapi kekhawatiran Raja He Lu dapat dihapus, dan ini sangat bermanfaat demi mengurus negara dengan baik.

Taktik itu bukanlah semata-mata digunakan untuk merebut kekuasaan, malah digunakan dalam perang mata antara berbagai negara sekarang. Biasanya, manusia bersimpati dengan orang yang terluka, maka cedera yang disengaja dapat memperdayakan lawan.

Tuesday, May 30, 2017

Taktik Peperangan "Wanita Cantik

Dalam 36 Taktik Peperangan pada zaman China kuno, taktik "Wanita Cantik" digunakan ketika seseorang menghadapi situasi yang tidak menguntungkan.

Taktik "Wanita Cantik" berarti menggunakan wanita cantik untuk menggoda dan melemahkan musuh. Pada zaman kuno, ahli strategi China berpendapat bahwa dalam situasi yang tidak menguntungkan, ada tiga cara untuk kompromi. Cara yang paling buruk adalah dengan menyerahkan tanah, tetapi ini akan meningkatkan kekuatan musuh. Cara yang sederhana adalah dengan memberikan uang, perhiasan dan sutra kepada musuh, tetapi ini akan meningkatkan kekayaan musuh. Cara yang paling baik adalah dengan menggunakan wanita cantik untuk mengurangi semangat dan melemahkan energi musuh dan dengan itu menjadikan diri sendiri semakin kuat.

Keistimewaan taktik "Wanita Cantik" adalah: risikonya rendah, pulangannya tinggi, sedangkan dampaknya baik. Tambahan lagi, pada zaman kuno, wanita tidak memiliki posisi dalam masyarakat.

Pada tahun 770 Sebelum Masehi sampai 476 Sebelum Masehi, Raja Negeri Yue, Gou Jian telah kalah dalam perang dengan Raja Negeri Wu, Fu Chai. Setelah itu, Gou Jian memilih dua orang wanita yang amat cantik, yaitu Xi Shi dan Zheng Dan sebagai souvenir kepada Fu Chai. Karena Fu Chai mabuk akan wanita cantik, maka ia tidak mengatur negerinya dengan baik. Pada tahun 482 Sebelum Masehi, Negeri Wu mengalami bencana kekeringan, Gou Jian telah menyerang terhadap Negara Wu ketika itu dan berhasil mengalahkannya.

Umumnya, pahlawan tidak dapat menahan godaan wanita cantik. Lengkapan ini ada karena taktik "Wanita Cantik" menyerang nafsu manusia, dan kebanyakan orang tidak dapat menahan nafsu.

Taktik "Wanita Cantik" banyak digunakan dalam berbagai bidang, seperti bidang diplomatik, bisnis, hubungan publik, iklan dan intelijen.

Inilah cerita terkenal tentang Taktik Peperangan "Wanita Cantik".

Wednesday, March 8, 2017

Legenda tentang Liang Zhu

Liang Shanbo dan Zhu Yingtai adalah salah satu dari empat legenda cerita rakyat China dan salah satu jenis yang paling berpengaruh dari seni verbal. serta menyebar jauh dan luas di China selama lebih dari 1600 tahun, karya seni ini bisa di samakan dengan cerita  "Romeo dan Juliet".

Muncul di Dinasti Jin 1.600 tahun yang lalu, Legenda Liang Zhu : Untuk mengejar studinya di Hangzhou, Zhu Yingtai menyamar sebagai seorang laki-laki. Setelah belajar selama tiga tahun bersama-sama dengan teman sesekolah nya Liang Shanbo, Zhu Yingtai jatuh cinta dengan intelektual itu. Sebelum perpisahan, Zhu Yingtai menjatuhkan petunjuk lagi dan lagi untuk Liang Shanbo namun gagal memahaminya pada waktu itu. Kemudian, setelah menjadi jelas tentang niat Zhu Yingtai, ia menuju keluarga Zhu untuk mengusulkan pernikahan. Sayangnya, Zhu Yingtai telah bertunangan dengan pria lain pilihan Ayahnya. Liang Shanbo begitu sedih bahwa ia akhirnya menderita sakit dan meninggal. Zhu Yingtai menuju makam Liang Shanbo untuk mempersembahkan korban kepadanya pada hari ketika dia menikah. Pada saat dia mengadakan upacara peringatan, turun hujan, petir berkedip di langit. Setelah beberapa saat, makam terbuka dan Zhu Yingtai melompat ke dalamnya. Kemudian, dua sijoli ini berubah menjadi sepasang kupu-kupu berwarna.


Tuesday, October 18, 2016

36 Taktik Peperangan: Lepaskan Kulit Serangga

Maksud asli "Lepaskan Kulit Serangga" adalah, setelah serangga bersalin kulit, jasad serangga itu telah keluar dari kulitnya, hanya tinggal kulit yang sudah kering masih tergantung di tempat asal. Jika kita tidak membuat pengamatan yang cermat, pasti kita anggap serangga itu masih berada di situ.

Dalam buku 36 Taktik Perang, penjelasan tentang taktik "Lepaskan Kulit Serangga" adalah seperti yang berikut: ketika Anda dalam keadaan terdesak, dan Anda hanya memiliki kesempatan untuk melarikan diri dan harus membentuk tim, buatlah sebuah ilusi. Sementara perhatian musuh terkonsentrasi atas muslihat yang Anda lakukan, pindahkan tim Anda secara rahasia sehingga selamat dari situasi yang bahaya. Taktik ini sering digunakan dalam kondisi kita lebih lemah dibandingkan dengan pihak musuh.

Pada abad ke-3 Masehi, China berada dalam kondisi terpecah dan diduduki oleh pemerintah tiga negara yaitu Negara Wei, Negeri Shu dan Negara Wu. Raja ketiga negara itu semua bercita-cita untuk merebut kekuasaan untuk menyatukan wilayah China. Mereka masing-masing telah berusaha untuk mendapatkan cendekiawan yang pandai dan bijaksana untuk membantu mengalahkan pihak musuh. Maka, pertempuran antara ketiga negara itu terjadi dari waktu ke waktu.

Antara para cendekiawan di ketiga negara itu, Perdana Menteri Negara Shu, Zhuge Liang adalah yang paling pandai cerdik dan memiliki kewibawaan yang tinggi karena berhasil memimpin tentara negeri Shu dalam peperangan sekian lama. Dengan mengetahui kepandaiannya, kepala militer dua negara yang lain pun gentar akan kehebatan Zhuge Liang. Oleh sebab itu, mereka selalu berhati-hati ketika berhadapan dengan tentara yang dipimpin oleh Zhuge Liang.

Suatu masa dulu, Zhuge Liang pernah memimpin sejumlah besar tentara Negeri Shu bertolak dari daerah selatan untuk menyerang negeri Wei di utara China. Sementara itu, raja negeri Wei juga telah mengerahkan tentara elitnya untuk menangkis serangan tentara negeri Shu. Selama konfrontasi militer kedua negara itu, Zhuge Liang telah jatuh sakit dan kondisi kesehatannya menjadi semakin hari semakin parah. Zhuge Liang tahu bahwa ia adalah satu-satunya orang yang mampu memimpin tentara negeri Shu dan membuat para prajurit bersemangat. Jika dia meninggal, militer negeri Shu pasti akan gagal dalam pertempuran itu dan pengunduran merupakan satu-satunya pilihan yang bijak. Yang menjadi masalah, jika tentara negeri Shu melakukan penarikan secara tiba-tiba, tentara negara Wei pasti akan mengejar mereka untuk menghapus kekuatan militer negeri Shu secara habis-habisan dan militer negeri Shu akan mengalami kematian dan cedera yang serius. Setelah mempertimbangkan kondisi itu, Zhuge Liang secara rahasia telah mengajarkan cara pengunduran tentara ke hulubalang, Jiang Wei.

Tidak lama kemudian, Zhuge Liang telah meninggal dunia ketika tentara kedua negara itu masih berada dalam kondisi konfrontatif. Hulubalang Jiang Wei telah menghambat mengeluarkan kabar tentang kepergian ketuanya sebagaimana yang diajarkan oleh Zhuge Liang. Dia telah memerintahkan tukang dalam tentaranya membikin satu patung kayu Zhuge Liang macam duduk di dalam sebuah kendaraan. Dengan begitu, Jiang Wei memimpin tentara negeri Shu membawa mayat Zhuge Liang memulai pengunduran.

Seperti yang disangka oleh Zhuge Liang, panglima tentara negara Wei telah mengerahkan pasukannya untuk mengejar tentara Shu. Jiang Wei pula telah mengirim sejumlah besar pasukannya berpura-pura sudah siaga melancarkan serangan terhadap pasukan negara Wei. Setelah melakukan pengamatan dari tempat jauh, panglima tentara negara Wei menemukan bahwa tentara negeri Shu terlihat disiplin dan antusias dengan pimpinan Zhuge Liang yang duduk di dalam kendaraannya. Dengan mengetahui kehebatan Zhuge Liang, panglima tentara negara Wei menyangsikan bahwa ini mungkin satu lagi trik yang dilakukan oleh Zhuge Liang. Jadi, dia telah memerintahkan pasukannya mundur supaya menghindari dari terkena tipu muslihat itu.

Dengan kesempatan itu, hulubalang Jiang Wei segera mentransfer kekuatan utama tentaranya ke tempat yang aman. Ketika panglima tentara negara Wei menerima kabar kematian Zhuge Liang adalah sudah terlambat untuk mengejar kekuatan utama pihak musuh.

Perdana Menteri negeri Shu, Zhuge Liang telah berhasil menggunakan taktik "Lepaskan Kulit Serangga" untuk melindungi tentaranya dari risiko dihapus dengan menggunakan trik untuk melarikan diri secara rahasia.

Monday, October 17, 2016

36 Taktik perang : Tutup Pintu untuk Menangkap Pencuri

36 Taktik Perang adalah sebuah buku yang di dalamnya terkandung 36 taktik perang yang digunakan pada zaman kuno di China dan diwarisi sampai hari ini. Taktik-taktik perang yang terkandung di dalam buku itu telah digunakan di China dalam jangka waktu yang panjang dan telah menjadi inti kebudayaan tradisi China. Pada saat ini, "36 Taktik Perang" telah disesuaikan untuk strategi dalam berbagai bidang, diantaranya termasuk politik, diplomasi, ilmu manajemen, perdagangan dan lain-lain.

Dalam "36 Taktik Perang" tidak banyak bagian yang menjelaskan tentang teori perang, sebaliknya lebih terfokus pada penggunaan praktis strategi perang.

"36 Taktik Perang" merupakan rumusan buah pikiran anggota militer yang terunggul pada zaman kuno China. Setiap taktik memiliki tujuan yang jelas dan bersifat praktis. Kebanyakan taktik tersebut lebih mementingkan perubahan yang tidak diharapkan ketika bertempur dengan musuh. 36 Taktik Perang diketahui oleh umum melalui berbagai cara. Ada taktik yang diberi nama dengan judul opera, peribahasa atau peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah China. Dengan demikian, masyarakat lebih mudah untuk memahami teori dan ilmu militer yang terkandung di dalam buku itu.

"Tutup Pintu untuk Menangkap Pencuri" adalah satu pepatah lama yang telah dipakai sejak turun-temurun. Dari judul taktik tersebut sudah dapat kita menangkap maksud yang hendak disampaikan, yaitu menarik pencuri masuk ke lingkungan yang dapat kita kawal, kemudian menutup pintu untuk menangkapnya. Penggunaan taktik itu terbukti efektif dalam peperangan zaman kuno China.

Dalam bidang militer, taktik "Tutup Pintu untuk Menangkap Pencuri" sama artinya dengan taktik "Mengepung dan Memusnahhabiskan" yang sering digunakan dalam peperangan.

Dalam buku "36 Taktik Perang", penjelasan tentang taktik tersebut berbunyi, tujuan "tutup pintu" adalah untuk mencegah musuh dari melepaskan diri, karena jika dibiarkan musuh melepaskan diri, ini akan menanam bibit konflik baru. Tapi, jika musuh berhasil melarikan diri, kita harus berhati-hati jika mengejar mereka agar tidak terjebak dalam tipu muslihat mereka. Selanjutnya, satu pertempuran yang terjadi pada zaman kuno China supaya saudara lebih memahami maksud taktik "Tutup Pintu untuk Menangkap Pencuri".

Pada tahun 880 Masehi, pasukan pemberontak petani yang dipimpin oleh Huang Chao telah menawan Chang'an, ibu kota kerajaan Dinasti Tang. Tetapi, raja Dinasti Tang sempat melarikan diri sebelum pasukan pemberontak memasuki kota itu. Baginda telah memerintahkan pasukan pemerintah di tempat yang lain agar berkumpul di luar kota itu untuk merebut kembali kota Chang'an. Setelah kedua pihak berkonfrontasi selama setahun, pasukan pemerintah telah pulih semangat dan siap untuk bertempur dengan pasukan pemberontak di dalam kota itu.

Mengingat jumlah tentara pemerintah sangat besar dan kota Chang'an tidak tahan lagi karena terlalu lama dikepung, Huang Chao telah memutuskan untuk mengundurkan pasukannya dari kota Chang'an setelah mengevaluasi situasi keseluruhan.

Sebelum tentara pemerintah melancarkan serangan terhadap kota Chang'an, mereka sama sekali tidak tahu pasukan pemberontak sudah mundur dari kota itu. Di luar dugaan mereka, serangan mereka tidak mengalami tangkisan. Kemenangan yang terlalu mudah didapat itu telah membuat para anggota tentara pemerintah sungguh gembira sehingga tidak lagi waspada terhadap gerakan pasukan pemberontak yang sudah lari.

Sementara itu, Huang Chao telah mengirim orang untuk mendapatkan informasi intelijen dalam kota Chang'an. Ketika diberikan pengarahan mengenai kondisi dalam kota itu, Huang Chao mengatakan, "musuh sudah masuk perangkap". Pada tengah malam hari itu, pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Huang Chao telah berkejar kembali ke kota Chang'an dan melancarkan serangan tajam terhadap kota itu. Bisa dibayangkan, bagaimana tentara pemerintah yang sama sekali tidak menyangka serangan itu akan terjadi, telah mengalami kematian dan cedera yang serius. Dengan menggunakan taktik "Tutup Pintu untuk Menangkap Pencuri", pasukan pemberontak telah berhasil mengalahkan tentara pemerintah yang mempertahankan kota Chang'an dan sekali lagi menduduki kota itu.

Menghayati cerita tersebut, apa yang dapat kita pelajari adalah, jika kita memiliki kesempatan untuk menangkap seluruh musuh maka lakukanlah bersungguh-sungguh sehingga pertempuran segera berakhir. Jika musuh berhasil melepaskan diri, keadaan akan menjadi lebih rumit. Ketika melakukan pengejaran, kita harus berhati-hati supaya tidak terjebak dalam tipu muslihat mereka. Jadi, yang paling penting adalah kita harus mengambil kesempatan ketika dapat memusnahhabiskan musuh dan jangan memberi kesempatan kepada mereka untuk melepaskan diri.

Saturday, October 15, 2016

Berteman dengan Negara Jauh dan Menyerang Negara Tetangga

36 Taktik Perang adalah sebuah buku yang di dalamnya terkandung 36 taktik perang yang digunakan pada zaman kuno di China dan diwarisi sampai hari ini. Taktik-taktik perang yang terkandung di dalam buku itu telah digunakan di China dalam jangka waktu yang panjang dan telah menjadi inti kebudayaan tradisi China. Pada saat ini, "36 Taktik Perang" telah disesuaikan untuk strategi dalam berbagai bidang, diantaranya termasuk politik, diplomasi, ilmu manajemen, perdagangan dan lain-lain.

Dalam "36 Taktik Perang" tidak banyak bagian yang menjelaskan tentang teori perang, sebaliknya kandungannya lebih difokuskan pada praktek praktis strategi perang.

"36 Taktik Perang" merupakan rumusan buah pikiran anggota militer yang terunggul pada zaman kuno China. Setiap taktik memiliki tujuan yang jelas dan bersifat praktis. Kebanyakan taktik tersebut lebih mementingkan perubahan tindakan yang tidak diharapkan ketika bertempur dengan musuh. 36 Taktik Perang diketahui oleh umum melalui berbagai cara. Ada taktik yang dikenal dengan nama judul opera, peribahasa atau peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah China. Dengan demikian, masyarakat lebih mudah untuk memahami teori dan ilmu militer yang terkandung di dalam buku itu.

Taktik "Berteman dengan Negara Jauh dan Menyerang Negara Tetangga" berasal dari satu pertempuran yang terkenal dalam sejarah China.

Pada abad ke-3 SM, China berada dalam Periode Negara-negara Berperang. Tatkala itu, konflik antara berbagai negara terjadi dari waktu ke waktu. Demi kepentingan masing-masing, mereka terkadang saling terkait, terkadang saling bermusuhan pula, dan ini menyebabkan situasi menjadi sangat rumit. Negeri Qin yang terletak di bagian barat laut China adalah antara negara yang paling pesat berkembang pada masa itu. Maka negeri itu mulai merencanakan untuk merebut kekuasaan negara yang lain dan bercita-cita untuk menyatukan China pada akhirnya. Pada saat itu, Negara Qi yang terletak di bagian timur China juga merupakan sebuah kekuatan besar. Raja Negeri Qin pada awalnya memang berniat menghapus Negeri Qi yang jauh di timur karena khawatir akan kemungkinan terjadinya konflik dengan Negeri Qi untuk merebut kekuasaan pemerintahan seluruh China pada suatu hari nanti. Namun, penasihat raja Qin, Fan Sui membantah rencana beliau itu. Fan Sui berpendapat bahwa perjalanan dari Negeri Qin ke Negeri Qi terlalu jauh dan akan melalui Negeri Han dan Negara Wei. Tindakan untuk menyerang Negeri Qi membutuhkan pengerahan tenaga sejumlah besar tentara, baru mungkin tentara negeri itu dapat dikalahkan. Akan tetapi, jika mereka melakukannya, pertahanan di wilayah Negeri Qin akan menjadi lemah, dan ada risiko ibu kota mereka sendiri diserang oleh negara yang lain dalam periode tersebut. Fan Sui menyarankan bahwa serangan terhadap Negeri Han dan Negeri Wei yang bertetangga dengan Negeri Qin patut dilaksanakan sebelumnya, dan ancaman Negeri Qi ditangani kemudian. Dalam pada itu, untuk mencegah ketiga negara tersebut menjalin hubungan afiliasi, Negeri Qin harus mengambil inisiatif untuk bersekutu dengan Negara Qi dahulu.

Raja Negeri Qin berkenan menerima rekomendasi Fan Sui dan melaksanakan kebijakan berteman dengan negara yang terletak jauh dari kawasan yaitu Negeri Qi dan Negara Chu. Sementara itu, militer Negeri Qin telah menduduki beberapa buah negeri kecil yang dekat dan sekaligus menyatukan bagian barat laut China. Selanjutnya pemerintah Qin telah menghapus Negeri Chu di selatan dan Negara Qi di timur dan akhirnya menyatukan China. Dengan itu, Kaisar Qin Shihuang mendirikan rezim pemerintah pusat yang pertama dalam sejarah China.

Dalam buku "36 Taktik Perang", penjelasan tentang taktik "Berteman dengan Negara Jauh dan Menyerang Negara Tetangga" berbunyi begini: ketika sesuatu sasaran militer susah dicapai karena dibatasi oleh posisi geografisnya, kita harus menyerang musuh yang dekat dahulu dan tidak menyerang sasaran yang berlokasi jauh dari kita itu. Untuk mencegah musuh menjalin hubungan afiliasi, kita harus menggunakan cara apapun untuk memecahkan mereka kepada klan, sehingga kita dapat menghapus mereka satu demi satu pada suatu hari nanti. Jika diteliti, berteman dengan negara jauh sebenarnya merupakan satu taktik menunda, agar ada waktu dan tidak berperang dengan terlalu banyak musuh secara serentak. Setelah kita menghilangkan musuh di sekitar kita, teman yang jauh pula menjadi target baru kita. Penjelasan tambahan terhadap taktik tersebut berbunyi, dalam situasi yang rumit, berteman dengan musuh di sekitar kita sangatlah bahaya karena kita selalu rentan terhadap ancaman mereka dan mudah pula diserang oleh mereka. Maka, kita harus menghapus ancaman yang tersembunyi di sekitar kita dahulu sebelum menyerang target yang lebih jauh.

Taktik "Berteman dengan Negara Jauh dan Menyerang Negara Tetangga" dapat dikatakan bersifat tipu daya, dan hoax itu mudah diketahui atau disadari oleh manusia. Dalam kondisi yang rumit yang melibatkan berbagai kekuatan politik dan militer yang saling bersaing, pengguna taktik ini mencapai kesuksesan karena dia mengetahui bahwa kekuatan yang lain semuanya khawatir akan mengalami kerugian karena terlibat dalam perang sebelumnya, dan ingin aman untuk seketika. Bagi Negeri Qi yang kena tipu muslihat itu, mereka mungkin mengetahui cita-cita Negeri Qin di balik kebijakan berteman dengannya, tetapi mereka memilih untuk berteman juga dengan Negeri Qin karena tidak memiliki keyakinan untuk menewaskannya tatkala itu. Maka, Negara Qi memilih untuk membuat perjanjian damai sementara dari bermusuh dengan Negeri Qin.

Friday, October 14, 2016

Melemparkan Batu Bata untuk Mendapatkan Jed

Melemparkan Batu Bata untuk Mendapatkan Jed merupakan satu peribahasa yang sering digunakan oleh orang China. Peribahasa itu secara harfiah berarti, kita sendiri melemparkan sebuah batu bata dan menyebabkan orang lain juga melemparkan sepotong giok yang sangat berharga. Orang China menjunjung sifat sopan santun dan rendah hati. Dalam acara umum, orang China suka menggunakan peribahasa "Melemparkan Batu Bata untuk Mendapatkan Jed" untuk menyampaikan maksud yaitu menyajikan padangan atau karya yang kita anggap kurang matang sebagai awal kata untuk memicu pemikiran para pendengar sehingga mereka memberi pandangan atau karya yang lebih cerdas dan matang.

Menurut catatan buku kuno China, peribahasa "Melemparkan Batu Bata untuk Mendapatkan Jed" berasal dari satu cerita yang terjadi pada Dinasti Tang China pada abad ke-9 Masehi. Dinasti Tang adalah zaman keemasan bagi penciptaan puisi China. Pujangga pada masa itu suka menampilkan bakat mereka melalui penciptaan puisi. Chang Jian adalah seorang penyair pada Dinasti Tang. Dia diberitahu bahwa Zhao Gu, seorang penyair yang sangat terkenal pada zaman itu akan mengunjungi ke Kuil Lingyin di Suzhou. Untuk menarik minat Zhao Gu untuk menciptakan puisi, Chang Jian telah pergi ke Kuil Lingyin dahulu dan menulis puisi di dinding kuil itu. Puisi lama China biasa berisi empat baris, Chang Jian dengan sengaja hanya menulis dua baris di udara itu. Tidak lama kemudian, Zhao Gu yang mengunjungi ke kuil itu telah nampak dua baris puisi itu yang belum lengkap. Seperti yang disangka, ini telah membangkitkan minatnya untuk melengkapi puisi tersebut di dinding itu. Dua baris kedua puisi jauh lebih baik dari yang ditulis oleh Chang Jian itu. Perbuatan Chang Jian ini kemudian disebut sebagai "Melemparkan Batu Bata untuk Mendapatkan Jed".

Dalam buku 36 Taktik Perang dinyatakan bahwa jika taktik "Melemparkan Batu Bata untuk Mendapatkan Jed" digunakan dalam bidang militer, maksudnya adalah lain dengan maksud aslinya.

Kita seharusnya menipu pihak musuh dengan menggunakan sesuatu yang mirip dengan apa yang kita hendaki. Dalam konteks ini, batu bata dijadikan umpan, giok pula adalah target sebenarnya yang hendak diburu. Antara taktik-taktik militer kuno China, ada banyak trik yang dapat memperdayakan pihak musuh. Dalam penggunaan taktik "Melemparkan Batu Bata untuk Mendapatkan Jed", kita harus mengetahui sepenuhnya kondisi pihak musuh. Dengan begitu, taktik tersebut baru dapat mencapai dampaknya. Selanjutnya, saya akan ceritakan satu contoh penggunaan taktik itu.

Pada tahun 700 sebelum Masehi, konflik antara berbagai negara di China sering terjadi. Semua negara akan memperluas wilayah masing-masing. Negara Chu telah mengerahkan pasukannya untuk menyerang kota Jiao. Meskipun kekuatan militer negara Chu lebih kuat dari militer yang mempertahankan kota Jiao, akan tetapi setelah sering kali melancarkan serangan terhadap kota itu, militer negeri Chu masih belum menawan kota itu. Ini karena kota Jiao memiliki posisi yang sangat strategis dari sudut geografis. Justru itu, seorang pegawai negeri Chu telah membuat analisa terhadap kondisi dalam kota itu. Dia berpendapat bahwa karena kota itu telah dikepung lama, tentara dalam kota itu tentu kekurangan kayu api. Jadi, pejabat itu telah mengusulkan satu tipu muslihat kepada raja negeri Chu. Lalu, raja negeri Chu telah mengambil pakai rekomendasi pejabat itu.

Baginda telah memerintahkan tim prajuritnya untuk berpura-pura sebagai penebang kayu dan pergi ke gunung setiap pagi untuk bekerja. Pada saat yang sama, tentara yang mempertahankan kota itu sedang risau karena mereka sudah habis kayu bakar untuk memasak. Dengan mengamati gerakan penebang-penebang kayu itu, mereka menganggap bahwa itulah kesempatan yang baik bagi mereka untuk menyita kayu bakar yang diperlukan. Lalu, tentara kota itu telah mengirim sepasukan tentara keluar untuk merampaskan kayu api secara rahasia. Karena para penebang kayu tidak memiliki senjata, tim itu telah mendapatkan kayu api dengan mudah.

Dengan begitu, pasukan yang mempertahankan kota Jiao telah keluar untuk menyita kayu api pada beberapa hari berturut-turut kemudian.

Sementara itu, militer negeri Chu berpura-pura seperti tidak sadar akan gerakan pihak musuh mereka. Jadi, tentara yang mempertahankan kota Jiao bertahap tidak lagi waspada terhadap serangan tentara negeri Chu tanpa sadar akan perangkap yang tersembunyi.

Satu hari, kota Jiao sekali lagi telah mengerahkan sekelompok besar pasukannya keluar untuk menyita kayu api. Penebang-penebang kayu yang dilakon oleh militer negeri Chu telah berlari dan menyebabkan tentara kota Jiao mengejar mereka ke tempat yang dibuat perangkap. Dengan melihat "para penebang" telah melepaskan kayu api, tim kota Jiao masing-masing telah mengumpulkan kayu api. Pada saat itulah, tentara negeri Chu telah meluncurkan serangan dan mengepung tim kota Jiao. Akhirnya, tentara kota Jiao terpaksa menyerah kepada tentara negeri Chu setelah mengalami kematian dan cedera yang serius karena tidak siap akan serangan itu.

Inilah satu contoh yang berhasil menggunakan taktik "Melemparkan Batu Bata untuk Mendapatkan Jed" pada zaman kuno China.

Thursday, October 13, 2016

6 Taktik Peperangan: Menarik Harimau untuk Meninggalkan Sarangnya

36 Taktik Perang adalah sebuah buku yang di dalamnya terkandung 36 taktik perang yang berlaku pada zaman kuno di China dan diwarisi sampai hari ini. Taktik-taktik perang yang terkandung di dalam buku itu telah diadopsi di China dalam jangka waktu yang panjang dan telah menjadi inti kebudayaan tradisi China. Pada saat ini, "36 Taktik Perang" telah disesuaikan untuk strategi dalam berbagai bidang, diantaranya termasuk politik, diplomasi, ilmu-ilmu manajemen, perdagangan dan lain-lain.

Dalam "36 Taktik Perang" tidak banyak konten yang menjelaskan tentang teori perang, sebaliknya lebih terfokus pada penggunaan praktis strategi perang.

"36 Taktik Perang" merupakan rumusan hasil pikiran anggota militer yang terunggul pada zaman kuno China. Setiap taktik, memiliki tujuan yang jelas dan bersifat praktis. Kebanyakan taktik tersebut lebih mementingkan perubahan yang tidak diharapkan ketika bertempur dengan musuh. 36 Taktik Perang diketahui oleh umum melalui berbagai cara. Ada taktik yang dinamakan dengan judul opera, peribahasa atau peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah China. Oleh sedemikian, orang lebih mudah untuk memahami teori dan ilmu militer yang terkandung di dalam buku itu.

Dari judul taktik tersebut sudah dapat kita tangkap maksud yang hendak disampaikan yaitu: melakukan sesuatu dengan tujuan untuk menarik harimau meninggalkan sarangnya. Di China, harimau disebut sebagai "raja di dalam gunung". Pada masa dahulu, peristiwa harimau menyerang manusia sering terjadi. Dalam operasi untuk menghilangkan harimau, orang harus menarik harimau keluar dari sarangnya sehingga meninggalkan daerah pegunungan yang menjadi tempat sembunyi. Maka, taktik "Menarik harimau untuk meninggalkan sarangnya" juga memiliki maksud lanjut yaitu: melakukan sesuatu supaya pihak musuh meninggalkan tempat asal atau kehilangan keuntungan.

Dalam buku "Seni Perang" hasil karya Sun Zi, ahli strategi terkenal China ditunjukkan bahwa menyerang musuh dengan hebat tanpa menghitung kekuatan pihak musuh pasti akan gagal. Jika pihak musuh telah berada dalam posisi strategis dan siap untuk menangkis serangan yang dihadapi, maka kita tidak dianjurkan berhadapan langsung dengan pihak musuh karena tidak memiliki kelebihan.

Dalam kondisi ini, kita dapat mencoba taktik untuk memikat musuh meninggalkan benteng pertahanan yang kokoh dengan biaya yang rendah. Dengan menggunakan tipu muslihat tersebut, kita dapat membuat situasi berubah sehingga kita mendapat keuntungan.

Dalam bidang militer, kunci keberhasilan penggunaan taktik "Menarik harimau untuk meninggalkan sarangnya" adalah "menarik". Selanjutnya, saya akan bagi satu contoh untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.

Pada awal abad kedua Masehi, wilayah China berada dalam kondisi terpisah-pisah dan diduduki oleh beberapa kekuatan lokal. Antaranya tiga kekuatan yang terbesar adalah Negara Wei, Negeri Shu dan Negara Wu.

Pada saat itu, pemimpin Negara Wu, Sun Ce bercita-cita untuk memperluas kawasan dan berencana untuk merebut kota Lu Jiang yang berkedudukan strategis dari tangan hulubalang Liu Xun.

Sun Ce menyadari bahwa pasukan Liu Xun sangat kuat, jika berhadapan langsung dengan tentaranya, maka kemungkinan untuk mencapai kemenangan adalah sangat kecil. Jadi, setelah berkonsultasi dengan pengikutnya, Sun Ce telah memutuskan untuk menggunakan taktik "Menarik harimau untuk meninggalkan sarangnya".

Liu Xun adalah seorang yang tamak. Dengan mengetahui kelemahan itu, Sun Ce telah mengirim hadiah yang mahal kepada Liu Xun. Dalam surat yang sama disampaikan dengan hadiah itu, Sun Ce dengan sikap rendah hati telah menyanjung tinggi pencapaian Liu Xun dan juga melontarkan kata yang manis untuk berteman dengan Liu Xun. Selain itu, Sun Ce juga telah meminta Liu Xun membantu dia dalam membalas serangan yang sering dilakukan oleh hulubalang yang berbasis di Shangliao dengan alasan kekuatan timnya lemah dan tidak mampu melakukan serangan jarak jauh.

Liu Xun merasa sangat senang hati dan bangga karena menerima hadiah dan permintaan bantuan dari Sun Ce. Sebenarnya, Liu Xun memang berhajat untuk merebut daerah Shangliao yang subur sejak awal. Jadi, Liu Xun yang terkena tipu daya akhirnya telah meluncurkan serangan terhadap Shangliao.

Serentak dengan itu, Sun Ce telah melakukan pemantauan yang ketat terhadap pergerakan tentara Liu Xun. Setelah Liu Xun telah memimpin beberapa puluh ribu orang prajurit berangkat untuk menyerang Shangliao, Sun Ce telah mengambil kesempatan itu untuk menyerang kota Lu Jiang yang daya pertahanannya menjadi lemah tanpa pimpinan Liu Xun. Akhirnya, Sun Ce telah merebut kota Lu Jiang dengan mudah sekali.

Dalam rencana sebelumnya, saya pernah perkenalkan taktik "Berpura-pura Menyerang di Timur tetapi Sasarannya adalah di Barat" dan "Selamatkan Negeri Zhao dengan Mengepung Negeri Wei". Taktik "Menarik harimau untuk meninggalkan sarangnya" juga dianggap sebagai satu taktik yang sangat efektif.

Dalam penggunaan taktik "Berpura-pura Menyerang di Timur tetapi Sasarannya adalah di Barat", kita harus mendapatkan informasi sepenuhnya tentang lawan, menganalisis pikiran lawan serta memperhatikan setiap tindakan lawan untuk membuat pertimbangan yang komprehensif sehingga keputusan yang benar dan tepat dapat dibuat.

Sementara, penggunaan taktik "Selamatkan Negeri Zhao dengan Mengepung Negeri Wei" harus menghindari kekuatan utama musuh dan menemukan bagian-bagian musuh yang lemah agar dapat mengalahkan dan mengalahkan musuh.

Dibandingkan dengan dua taktik tersebut, "Menarik harimau untuk meninggalkan sarangnya" menekankan penggunaan intrik sehingga pihak musuh jauh dari lingkungan tertentu atau kehilangan keuntungan, kemudian barulah kita bertindak untuk mengalahkannya.

Wednesday, October 12, 2016

36 Taktik Perang

"36 Taktik Perang" adalah sebuah buku klasik yang mengangdungi 36 taktik perang yang tidak hanya digunakan pada zaman kuno bahkan sampai ke zaman ini di China. Kasau dan tiang merupakan bagian yang paling penting dalam struktur rumah. Manusia dan kekuasaan yang memegang peranana yang penting dianggap kasau dan tiang.

Setelah China disatukan pada abad ke-3 sebelum Masehi, Qinshihuang, kaisar pertama Dinasti Qin, sangat yakin pada kesehatannya dan bercita-cita akan memerintah negara untuk jangka waktu yang panjang. Jadi, ia tidak mengatur pewaris untuk melanjutkan pemerintahannya. Namun, persaingan untuk merebut tahta kaisar di negaranya terjadi antara Fu Su dengan Hu Hai, dua orang putra beliau sehingga ada dua golongan yang bertentangan di dalam istana.

Fu Su, anak sulung Qinshihuang adalah orang yang jujur ​​dan baik hati, justru beliau mendapat dukungan dan dukungan dari rakyat seluruh negara. Sebaliknya, Hu Hai, anak bungsu kaisar itu, sifatnya ganas suka berfoya-foya dan menghabiskan waktu tanpa berbuat sesuatu yang bermanfaat. Qinshihuang sayang kepada Fu Su dan berencana akan mengisytiharkannya sebagai pewaris tahta kerajaannya. Oleh itu, Fu Su dikirim ke daerah perbatasan untuk belajar dan mendapatkan pelatihan dari Meng Tian, ​​seorang panglima militer yang terkenal.

Tidak lama kemudian, ketikat dalam perjalanan untuk mengadakan tinjauan ke suatu tempat lain, Qinshihuang telah jatuh sakit. Dia segera memerintahkan Li Si, perdana menteri yang ikut bersama dalam peninjauannya supaya pulang segera ke istana untuk memungkinkan Fu Su, anak sulungnya itu mewarisi tahtanya. Namun, perintah itu telah disembunyikan oleh Zhao Gao, seorang pejabat senior yang memegang merek segel kaisar. Tidak lama kemudian, Qinshihuang mangkat. Pewaris tahta kaisar itu tidak diumumkan karena Li Si takut terjadi kerusuhan jikalau perintah kaisar itu diketahui umum. Hal itu terus dirahasiakan.

Zhao Gao yang memiliki cita-cita sendiri berbincang dengan Li Si. Menurut perkiraan dia, setelah Fu Su naik takhta, Meng Tian pasti akan menjabat yang tinggi. Setelah itu, katanya lagi, apakah posisi dan kekuatan Li Si masih ketat? Li Si terpengaruh dan merasakan pendapat Zhao Gao tepat dan mengambil keputusan untuk melanggar perintah Qinshihuang sehingga membantu Fu su naik tahta kerajaan. Mereka telah membuat perintah palsu yang mengatakan bahwa Fu Su telah membunuh diri menurut perintah kaisar dan Meng Tian pula dibunuh dengan alasan yang lain. Setelah itu, Hu Hai telah menggantikan Fu Su dan naik tahta menurut perintah Zhao Gao dengan cara kasau dan tiang diganti secara rahasia. Dinasti Qin digulingkan hanya 3 tahun kemudian.

Tuesday, October 11, 2016

36 Taktik Peperangan: Berpura-pura Bodoh

Dalam 36 Taktik Perang, "Berpura-pura bodoh" berarti walaupaun memiliki kekuatan yang besar, namun, menyembunyikannya dengan berpura-pura mabuk, gila atau bodoh, sehingga musuh menjadi sombong dan meremehkannya. Ini memberikan kesempatan untuk menghilangkan musuh itu.

Taktik ini sering digunakan oleh politisi. Ketika situasi tidak memberikan manfaat kepada mereka, mereka akan berpura-pura tidak memiliki apa-apa keahlian atau cita-cita politik yang besar, sehingga musuh memperlekehkan mereka. Ketika itu, mereka akan mencari kesempatan untuk menghapus musuh dan mewujudkan cita-cita sendiri.

Misalnya, Cao Cao dan Liu Bei adalah dua orang politisi yang memiliki cita-cita untuk menyatukan China pada abad ke-3. Tapi, kekuatan Liu Bei agak kurang dibandingkan dengan Cao Cao. Oleh sebab itu, ia selalu berpura-pura sangat patuh kepada Cao Cao. Pada satu hari, Cao Cao mengajak Liu Bei untuk makan bersama-sama. Ketika itu, Cao Cao bertanya kepada Liu Bei siapakah pahlawan pada masa itu menurut pandangannya. Liu Bei menyatakan beberapa tokoh yang terkenal pada masa itu sebagai pahlawan. Tapi, Cao Cao berkata: "Hanya Anda dan saylah pahlawan nyata di seluruh negara." Liu Bei sangat terkejut mendengar kata tersebut, dan sepit pun terjatuh dari tangannya. Dia takut Cao Cao telah memahami ambisi politiknya. Ketika itu, guruh terdengar berdentum-dentum di langit. Liu Bei segera menjelaskan bahwa bunyi guruh telah mengejutkannya sehingga sepit di tangannya terjatuh. Cao Cao berpendapat orang yang terkejut oleh bunyi guruh tidak mungkin menjadi pahlawan yang handal dan mulai memperlekehkan Liu Bei. Peluang ini digunakan oleh Liu Bei untuk mendirikan negara sendiri dan kemudian berjuang dengan Cao Cao beberapa lama untuk menyatukan negara.

Kini, taktik tersebut juga sering digunakan dalam perdagangan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Lawan atau persaing harus menganalisis situasi secara menyeluruh dan jangan mengambil keputusan dengan terburu-buru berdasarkan perilaku atau perkataan pihak lain saja.

Monday, October 10, 2016

Taktik Perang "Pohon Berbunga".

Dalam 36 Taktik Perang pada zaman kuno China, "Pohon Berbunga" berarti menempatkan bunga palsu pada pohon yang tidak berbunga untuk menyesatkan orang lain. Dengan kata lain, pasukan yang jumlahnya tidak banyak atau lemah dapat mempergunakan kekuatan militer sahabatnya atau sesuatu faktor untuk menciptakan kebingungan bagi musuh.

Pada Zaman Kerajaan Tiga Negeri, Zhang Fei adalah seorang jenderal senior dari Negeri Shu.

Pada tahun 208, Administrator Negeri Wei, Cao Cao memimpin pasukannya menyerang Jinzhou yang diduduki Administrator Negeri Shu, Liu Bei. Pada saat itu, tentara Liu Bei tidak banyak maka terpaksa mundur dari Jinzhou bersama-sama dengan penduduk lokal.

Cao Cao pun mengirimkan pasukan untuk mengejar tentara Liu Bei. Mengingat situasi cemas itu, Liu Bei memerintahkan Zhang Fei memimpin sekitar 30 orang tentara berkuda untuk mencegah serangan pasukan Cao Cao sehingga menjamin para pasukan dan penduduk Negeri Shu.

Jumlah tentara yang dipimpin Zhang Fei sangat kurang dibandingkan dengan pasukan Cao Cao, maka Zhang Fei pun memerintahkan prajurit-prajuritnya bersembunyi di dalam sebuah hutan yang akan dilalui oleh tentara musuh. Para prajurit tersebut disuruh mengikatkan ranting-ranting pohon di ekor kuda. Lalu, mereka memacu kuda perjalanan di dalam hutan itu sehingga debu beterbangan. Zhang Fei pula berkuda dan mengontrol di sebuah jembatan di depan hutan tersebut.

Ketika pasukan Cao Cao tiba, mereka melihat Zhang Fei seorang mengontrol di jembatan dan debu berterbangan dalam hutan di belakang jembatan itu, mereka menganggap ada banyak prajurit ditempatkan dalam hutan maka tidak berani menyerang. Zhang Fei malah menantang mereka untuk bertempur, maka pasukan Cao Cao pun mundur dari sana. Setelah itu, Zhang Fei menghancurkan jembatan tersebut dan mundur dengan selamat.

Inilah cerita terkenal tentang Taktik Perang "Pohon Berbunga".

Saturday, October 8, 2016

Cerita pak Pandir Ratakan Gunung

Pada zaman dahulu kala, ada seorang tua yang dikenal sebagai Pak Pandir. Usianya sudah hampir 90 tahun. Rumahnya berhadapan dengan dua buah gunung yang besar, yaitu Gunung Thaihang dan Gunung Wangwu. Kedua buah gunung tersebut menjadi penghalang perjalanan Pak Pandir sekeluarga.

Pada suatu hari, Pak Pandir mengumpulkan anggota keluarganya dan berkata, "Bagaimana, kalau kita sekeluarga berusaha bersama-sama meratakan kedua buah gunung itu?"

Ketika mendengar usulan Pak Pandir itu, anak dan cucu-cicitnya mengatakan, "Usulan itu bagus. Marilah kita mulai meratakan kedua gunung itu padaesok hari." Akan tetapi, istri Pak Pandir merasa tugas itu terlalu sulit untuk dilaksanakan dan mengemukakan pendapat yang bertentangan, "Kita sudah tinggal di sini begitu lama, mengapa kita tidak bisa terus hidup begini saja? Selanjutnya, kedua gunung itu begitu besar. Jika ia dapat diratakan, tempat mana yang bisa menampung begitu banyak batu dan lumpur? "

Pandangan istri Pak Pandir ini menimbulkan reaksi dan diskusi dalam kalangan anak cucunya. Masalah itu memang sulit diselesaikan. Akhirnya, mereka dengan suara bulat memutuskan untuk mengangkut batu dan lumpur tersebut ke laut. "

Pada keesokan harinya, Pak Pandir pun memimpin anggota keluarganya untuk mulai meratakan kedua gunung tersebut. Ada seorang tetangganya, janda yang memiliki seorang anak laki-laki yang berumur sekitar tujuh atau delapan tahun. Ketika mendengar berita bahwa keluarga Pak Pandir akan meratakan gunung, dia pun datang mengulurkan bantuan. Akan tetapi, peralatan mereka hanyalah cangkul dan keranjang, sedangkan kedua gunung tersebut jarak yang agak jauh dari laut. Setiap hari, setiap orang hanya mampu berulang sekali saja dari gunung ke laut. Jadi, meskipun setelah berusaha selama sebulan, gunung itu tampaknya sama saja dibandingkan masa sebelumnya.

Pada suatu hari, ada seorang tua yang digelar Pak Pintar. Melihat keluarga Pak Pandir yang sedang meratakan gunung, dia merasa geli. Dia pun mengatakan kepada Pak Pandir, "Usia awak sudah lanjut, dan awak pun susah berjalan, bagaimana kau hendak meratakan kedua gunung yang begitu besar?"

Pak Pandir menjawab, "Nama awak Pintar, akan tetapi kau tidak lebih pijak dari budak-budak. Bila saya mati, anak-anak saya akan melanjutkan pekerjaan saya ini, bila mereka pula mati, cucu-cicit saya akan meneruskannya, dan kerja akan diteruskan oleh anak-anak mereka sampai ke cucu-cicit mereka turun-temurun. Batu dan lumpur di gunung tersebut semakin berkurang, karena kami meratakannya setiap hari, setiap bulan dan setiap tahun. Mengapa kami tidak dapat meratakan gunung tersebut? " Pak Pintar itu tidak bisa menjawab lagi.

Pak Pandir dan keluarganya terus meratakan kedua buah gunung tersebut dengan tidak menghiraukan kondisi cuaca, panas atau dingin. Mereka bekerja dari siang sampai ke malam setiap hari. Akhirnya, menurut ceritanya, Dewa terharu melihat kegigihan mereka, lalu mengirim dua peri untukt memindahkan kedua gunung tersebut.

Pengajaran:

Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita agar jangan menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Friday, October 7, 2016

Cerita tentang Pengambil Api

Dalam banyak dongeng di China, ada banyak pahlawan yang cerdik dan gagah berani yang bersedia mengorbankan jiwa raga mereka untuk menjamin kebahagiaan rakyat. Suiren, yaitu pengambil api merupakan salah seorang dari mereka.

Pada zaman purba kala, manusia tidak tahu bahwa ada api di dunia ini, dan mereka juga tidak tahu bagaimana menggunakan sumber itu. Setiap malam, di mana-mana saja gelap gulita, yang terdengar hanya suara binatang liar yang mengaum-ngaum di hutan rimba. Manusia ketika itu, selalu merasa sangat takut, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena tidak ada api, makanan yang dimakan mereka hanyalah makanan mentah. Jadi, manusia sering sakit, dan umur mereka sangat pendek.

Konon, ada seorang dewa di langit yang bernama Fu Xi. Dia merasa kasihan ketika melihat manusia hidup begitu menderita. Untuk mengajarkan cara menggunakan api kepada manusia, dewa Fu Yi telah membaca mantra tertentu sehingga hujan lebat turun di hutan. Tiba-tiba, sebuah pohon disambar petir, lalu hutan itu terbakar. Orang sangat takut dan melarikan diri dari tempat itu. Sebentar kemudian, hujan yang lebat itu pun teduh. Hari mulai gelap, dan cuaca menjadi semakin dingin. Ketika melihat pohon itu dijilat api, manusia sangat takut. Pada saat itu, ada seorang pemuda yang menyadari bahwa suara binatang liar yang mengaum-ngaum di daerah sekitar hutan itu tidak terdengar lagi. Dia berpikir, apakah binatang liar takut akan cahaya api. Dia dengan berani pergi ke tempat yang ada api itu, dan tiba-tiba dia terasa panas. Dia dengan senang memanggil sekalian manusia di situ untuk pergi ke sana, sambil berkata: "Api ini tidak menyakiti kita, sebaliknya ia akan menerangi dan memanaskan". Pada saat itu, banyak juga orang yang menemukan, ada binatang liar yang tewas dalam kebakaran besar itu di tempat yang tidak jauh dari sini. Binatang yang terbakar itu mengeluarkan aroma yang sedap sampai menimbulkan selera mereka untuk makan. Mereka berkumpul di tepi api, dan memakan daging binatang liar yang dirasakan sangat enak itu. Sejak itulah, mereka tahu api adalah sesuatu benda yang sangat berharga. Kemudian, mereka memungut dahan pohon, dan menyalakan api dengan tumpukan kayu tersebut. Setiap hari, api tersebut dikontrol mereka secara bergantian sehingga tidak terhapus.

Pada suatu hari, orang yang mengendalikan api itu tertidur, dan api padam setelah kayu api habis terbakar. Banyak orang menjadi sangat sedih karena mereka harus kembali menderita kegelapan dan kesejukan.

Setelah mengetahui hal tersebut, dewa Fu Xi datang ke dalam mimpi pemuda yang sebelumnya menemui penggunaan api itu, dan memberitahunya bahwa jauh di bagian barat, di Negeri Suiming, ada bahan yang bisa menyalakan api. Dia bisa mengambil api dari negeri itu. Ketika tersadar dari mimpinya, pemuda itu teringat akan kata-kata dewa Fu Xi. Dia berjanji akan pergi ke negeri Suiming untuk mencari bahan yang bisa menyalakan api itu.

Setelah melintasi pegunungan yang tinggi, mengharung sungai yang besar-besar, menembus hutan yang luas, dan mengatasi banyak kesulitan, akhirnya pemuda itu berhasil tiba di Negeri Suiming. Namun, negeri itu langsung tidak ada sinar matahari, dan tidak dapat membedakan siang hari dan malam, dan sama sekali tidak ada api. Pemuda itu merasa sangat kecewa, dan duduk termenung di bawah pohon yang besar. Tiba-tiba, dia melihat ada cahaya yang menerangi sekitarnya. Dia segera pergi mencari sumber cahaya. Pada saat itu, dia melihat ada beberapa ekor burung sedang mematuk ulat pada sebatang pohon. Setiap kali mereka mematuk batang pohon itu, percikan api akan keluar dari pohon itu. Pemuda itu segera mengambil sebatang ranting yang kecil, lalu digeselnya ke dahan yang besar. Geselan itu memancarkan cahaya, tetapi kayu itu tidak terbakar. Pemuda itu tidak putus asa. Dia dengan sabar menggunakan beberapa batang ranting untuk digesel api. Akhirnya, ranting itu mengeluarkan asap, dan kemudian berapi. Melihat api yang bernyala-nyala itu, pemuda itu merasa sangat terharu.

Kemudian, dia kembali ke kampung halaman, dan memperkenalkan cara menghasilkan api tersebut kepada orang lain. Sejak itulah, manusia tidak lagi hidup dalam kegelapan, kedinginan dan ketakutan. Atas keberanian dan kecerdikannya yang luar biasa, pemuda itu dipilih sebagai kepala kaum, dan diberi gelar "Suiren", yang berarti pengambil api.