Translate This Blog - 翻译此博客

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified







Masjid Shijingshan merupakan satu-satunya masjid di daerah Shijingshan, Beijing. Pada zaman dahulu, tidak ada masjid atau surau di daerah tersebut. Pada awal tahun 1950-an, ketika Perusahaan Besi Negara didirikan, semakin banyak umat Islam dari daerah-daerah yang lain berhijarah ke daerah Shijingshan dan bekerja di perusahaan besi dan besi baja tersebut.

Pada tahun 1953 Masehi, mereka telah membangun sebuah surau kecil di daerah tersebut. Pada tahun 1970-an, pemerintah telah memperbaiki dan merenovasi Masjid Shijingshan yang telah terlihat agak usang itu.

Pada Januari 2000, wakil rakyat mengajukan proposal kepada pemerintah untuk membangun kembali Masjid Shijingshan. Rekomendasi itu sangat menarik perhatian pemerintah dan pihak-pihak yang bersangkutan.

Alokasi dari pemerintah sebesar RMB600 ribu dan kontribusi Perusahaan Besi dan Besi baja Negara sebesar RMB600 ribu serta umat Islam lokal memungkinkan masjid yang baru selesai dibangun dalam waktu 100 hari saja dan digunakan menjelang Hari Raya Aidilfitri tahun 2000.

Masjid baru luasnya sekitar 700 meter persegi. Ruang sembahyang luasnya sekitar 400 meter persegi. Bangunan masjid itu bercirikan arsitektur Asia Barat. Kira-kira empat ribu orang umat Islam di daerah Shijingshan kini memiliki sebuah masjid dan modern dan cantik.

China meluncurkan seri kedua satelit Shijian-16, peluncuran satelit yang dilakukan oleh roket Long March-4B dan lepas landas pada pukul 11:21 pada hari Rabu tanggal 29 Jun 2016 dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di barat laut China.

Satelit Shijian-16 yang pertama diluncurkan pada Oktober 2013.


Geng Lu Bu telah mencatat lebih 100 daerah dan informasi penting maritim di perairan Laut Cina Selatan, antaranya termasuk arah pelayaran, waktu yang dibutuhkan dan jarak, pulau dan terumbu yang ditemukan dalam perjalanan, kederasan arus laut dan perubahan cuaca di wilayah perairan tersebut. Konten buku tersebut terus diubah dan diperbaiki sampai lengkap oleh para nelayan dari satu generasi ke generasi. Dalam buku Geng Lu Bu berbagai edisi itu, tercatat lebih 20 sandi untuk menangkap ikan di Kepulauan Xisha, lebih 200 sandi untuk menangkap ikan di Kepulauan Nansha, lebih 20 rute pergi balik dari Nansha ke Pulau Hainan, selain beberapa pusat transportasi maritim dan pusat produksi hasil laut. Catatan tersebut juga telah menyediakan panduan kepada para nelayan gengerasi yang kemudian untuk menghindari risiko ketika melakukan pelayaran dan eksplorasi di wilayah perairan tersebut.

Geng Lu Bu telah mencatat banyak daerah di Kepulauan Xisha dan Nansha yang diberi nama oleh nelayan Cina, misalnya mereka menamai terumbu berbentuk lingkaran sebagai keranjang dan membubuh nama "Bing Perak" kepada Terumbu Anderson. Penamaan pulau-pulau di Laut Cina Selatan oleh nelayan Hainan menurut tradisi adat istiadat lokal telah membuktikan merekalah yang paling awal menemukan pulau-pulau di Laut Cina Selatan, yang paling awal hidup di sana dan yang paling awal mengeksplorasi, mengembangkan dan mengontrol wilayah perairan itu.

Selain itu, Geng Lu Bu turut menggambarkan secara rinci tentang nelayan Cina yang telah menjejakkan kaki hampir seluruh perairan Laut Cina Selatan. Nelayan Hainan Cina sejak zaman kuno telah melakukan kegiatan penangkapan ikan di wilayah perairan Kepulauan Xisha dan Nansha, membangun rumah dan kuil, bercocok tanam dan menjalankan peternakan di pulau-pulau bersangkutan sampai menciptakan satu budaya laut yang unik di Laut China Selatan yang memiliki Cina. Selain jalur pelayaran dan daerah penangkapan ikan, buku tersebut juga menyebutkan, perairan Kepulauan Xisha dan Nansha telah menjadi daerah penangkapan ikan tradisional bagi nelayan Cina sejak Dinasti Ming. Area tinggalan zaman kuno itu merupakan bukti yang kokoh untuk menunjukkan nelayan Hainan Cina yang mengeksplorasi dan mengembangkan Laut Cina Selatan.

Geng Lu Bu adalah dokumen sejarah terpenting yang membuktikan kedaulatan Cina di Kepulauan Xisha dan Nansha dan telah terdaftar dalam daftar kelompok pertama warisan budaya bukan materi tingkat nasional China pada bulan Juni 2008. Karya unggul yang dihasilkan oleh nelayan Hainan itu memainkan peran yang sangat penting dalam hal sejarah bagi memelihara hak rakyat Cina di Laut Cina Selatan.

Kota Shuanglang yang terletak di tepi timur laut Danau Erhai, timur laut kota Dali, provinsi Yunnan - China. merupakan sebuah kota yang terkenal dengan sejarah dan budaya. Kota yang luasnya 218.28 kilometer persegi ini memiliki penduduk lebih 17.000 jiwa, 84.6% diantaranya adalah etnis Bai. Pemandangan yang indah dan adat istiadat etnis Bai yang unik menjadi daya tarik kota ini bagi wisatawan dari dalam dan luar negeri.



Makanan dari kelompok etnis Tatar di China kaya dalam berbagai rasa dan selera, terutama kue-kue nya. Wanita dari kelompok etnis Tatar ahli dalam membuat kue-kue tradisional yang telah diwariskan dari generasi ke generasi nenek moyang mereka .

Untuk makanan tradisional Tatar, keju, madu, susu, selai, dan krim adalah bahan utama, kue Tatar terkenal dengan kehalusannya, lezat dan terkenal di Xinjiang bahkan di seluruh negeri China.

Gubadia
Semacam kue panggang yang diisi dengan daging, beras, telur dan buah-buahan kering. Pertama, mencuci beras dan keringkan di bawah sinar matahari, dan kemudian memasukkannya ke belanga pemanas ditutupi dengan krim, irisan aprikot kering, kismis dan bahan-bahan lainnya. kue ini sangat renyah di luar dan lembut di dalam.



;;

Others Post

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...