Menurut ceritanya, seekor harimau yang terlalu lapar mencari makan di dalam hutan. Kebetulan, ditemuinya seekor rubah yang sedang berjalan-jalan di dalam hutan itu. Sang harimau pun segera menangkap rubah itu, dan dengan gembiranya ingin menikmati daging rubah yang sedap itu. Namun, ketika itu, sang rubah yang ditangkap itu mengatakan kepada harimau itu: "Hai sang harimau. Aku yakin kau tidak berani memakan aku. Aku diperintahkan oleh kaisar di kayangan untuk menjadi Raja Binatang di bumi. Jika kau memakan aku, kau pasti dijatuhi hukuman berat karena melanggar titah perintah Kaisar Kayangan. "
Sang harimau itu merasa ragu-ragu terhadap kata-kata rubah itu. Namun, ia tidak tahu bagaimana menangani binatang yang ditangkapnya itu, sedangkan perutnya terlalu lapar. Ketika melihat kelengahan sang harimau itu, sang rubah itu terus berkata:
"Adakan tuanku tidak percaya kepada apa yang aku katakan tadi? Kalau begitu, biarlah aku berjalan di depan tuan, dan tuanku mengekor di belakangku. Cobalah kau lihat reaksi binatang-binatang liar yang melihatku nanti. Mereka pasti menundukkan kepala kepadaku atau segera melarikan diri. "
Sang harimau merasa rekomendasi rubah itu cukup masuk akal. Maka, ia terus berjalan dengan mengekor di belakang rubah itu. Memanglah benar, ketika binatang lain melihat mereka, semua binatang liar amat takut, dan segera melarikan diri ke mana-mana. Namun, sang harimau itu tidak tahu bahwa mereka melarikan diri karena takut kepada kegarangannya. Ia berpendapat bahwa binatang tersebut benar-benar takut kepada rubah itu.
Cerita teladan ini menasihati kita agar memiliki visi untuk menyisihkan yang palsu dan mempertahankan yang benar. Jika tidak, kita akan mudah tertipu oleh mereka yang asik menipu orang dengan menggunakan nama orang yang kompeten, seperti pengalaman sang harimau dalam cerita tersebut.









0 komentar:
Post a Comment
Terima Kasih atas Komentar anda.
Thanks for your Comments.