Chindo News

Informasi berita, sosial, budaya, etnik, militer, teknologi, dari negara China.

Chindonews.blogspot.com

Informasi berita, sosial, budaya, etnik, militer, teknologi, dari negara China. .

China-Indonesian Information

Informasi berita, sosial, budaya, etnik, militer, teknologi, dari negara China..

Pameran Mobile

Pameran Mobil Internasional.

Pertukaran Budaya

Kebudayaan adalah sesuatu hal yang baru yang menghasilkan nilai budaya.

Showing posts with label Dinasti. Show all posts
Showing posts with label Dinasti. Show all posts

Wednesday, August 29, 2012

Profile Jiang Zemin

Jiang Zemin adalah presiden kelima Republik Rakyat China (1.993-2.003). Dia menjadi pemimpin Partai Komunis China (CPC) setelah pembantaian Lapangan Tiananmen pada 4 Juni 1989. Jiang dikenal karena "Tiga Wakil" teori, yang mengatakan partai mewakili Marxisme-Leninisme, Mao Zedong dan Deng Xiaoping pemikiran teori, yang ditulis ke dalam konstitusi BPK dan RRC.

Lahir: Agustus, 1926

Tempat lahir: Jiangsu, China

Pernikahan Status: menikah, anak dua

Pendidikan: Sarjana, Departemen Mesin Listrik, Shanghai Jiaotong University

Karir : Politik

1989 - 2002 Sekretaris Jenderal, Komite Sentral CPC dari Politbiro

1993 - 2003 Presiden, Republik Rakyat China

1989 - 2004 Ketua, BPK Komisi Militer Pusat

1985 - 1987 Sekretaris, BPK Komite Kota, Shanghai Kota

1985 - 1987 Walikota, Shanghai Kota

1982 - 1985 Sekretaris, Departemen Electronics Industry, Memimpin BPK Kelompok Partai

1982 - 1985 Menteri, Departemen Electronics Industry

1962 - 1980 Direktur Jenderal, Departemen Pertama Mesin-Bangunan Industri, Biro Luar Negeri

Wednesday, May 30, 2012

Ahli sejarah Gu Yanwu

Gu Yanwu (tahun 1613 - 1682), seorang ahli pemikir, ahli sejarah, ahli linguistik China di ujung zaman Dinasti Ming (tahun 1368 - 1644) dan awal zaman Dinasti Qing (tahun 1616 - 1911). Ketika masih muda, ia pernah bergabung gerakan melawan invasi tentara Qing saat pemerintahan Dinasti Ming digulingkan. beliau tidak pernah melayani pemerintah Qing, sebaliknya mengembara ke seluruh negara dan mengabdikan diri dalam bidang penelitian. Slogan yang agungkannya adalah  "Semua orang bertanggung jawab terhadap nasib negaranya" menyemarakkan semangat nasional China sehingga sekarang. Rumah Gu Yanwu juga menjadi tujuan wisata di kota kuno Qiandeng

Friday, November 19, 2010

Rumah dan Makam Konfusius


Konfusius merupakan pendiri Filsafat Konfusius yang juga disebut Filsafat Ru Tiongkok. Selain itu, ia juga merupakan salah seorang filsuf yang paling terkenal di dunia. Rumah Konfusius, Rumah Konfusius dan Makam Konfusius merupakan manifestasi penyanjungan kaisar-kaisar berbagai dinasti di Tiongkok selama lebih 2 ribu tahun ke Konfusius dan Filsafat Konfusius. Kedua tempat itu menjadi tempat yang sangat penting dalam sejarah Tiongkok dan kebudayaan timur bahkan dunia.

Rumah Berhala Konfusius, Rumah Konfusius dan Makam Konfusius terletak di kampung halaman Konfusius di kota Qufu Provinsi Shandong di timur China.





Rumah Berhala Konfusius merupakan tempat pemujaan Konfusius yang paling besar di China. Konfusius wafat tahun 478 sebelum Masehi. Kemudian Filsafat Konfusius dijadikan sebagai kebudayaan ortodoks Tiongkok. Kaisar berbagai dinasti Tiongkok memperluas secara berkelanjutan pembangunan Rumah Berhala Konfusius. Pada awal abad ke-18, Kaisar Yongzheng Dinasti Qing mengarahkan pembangunan dan konservasi besar-besaran Rumah Berhala Konfusius sehingga Rumah Berhala Konfusius menjadi kompleks bangunan yang megah.

Pekarangan Rumah Berhala Konfusius sepanjang lebih satu kilometer dan seluas sekitar 100 ribu meter persegi. Ia merupakan kompleks bangunan kuno yang terbesar di Tiongkok, selain Kota Terlarang di Beijing.

Rumah Berhala Konfusius dibangun berdasarkan susunan Kota Terlarang di Beijing. Bangunan-bangunan utamanya dibangun sesuai menurut garis tengah dari selatan ke utara, sedangkan bangunan lain dibangun secara simetris di kedua sisi garis tengahnya. Rumah Berhala Konfusius memiliki 9 buah pekarangan yang sambung-menyambung, 9 buah dewan besar dibangun sejajar dari selatan ke utara dalam pekarangan-pekarangan tersebut. Dewan Dacheng merupakan dewan utama Rumah Berhala Konfusius. Dalam masyarakat feodal Tiongkok ketika segala hal dilakukan secara ketat oleh sistem hieraki tingkat, angka 9 merupakan simbol angka maha agung yang hanya dapat digunakan oleh kaisar dan istana kerajaan. Orang lain yang menggunakan angka 9 akan dibunuh. 9 buah pekarangan dan 9 buah dewan yang dibangun di Rumah Berhala Konfusius ini adalah dikonfirmasi secara khusus oleh kaisar. Ini telah memperlihatkan posisi luar biasa tingginya Rumah Berhala Konfusius.

Thursday, September 16, 2010

Paka Sejarah Dinasti Song

Sima Guang dilahirkan pada tahun 1019 M. Ia rajin belajar ketika masih kecil dan lulus ujian nasional pada umur 20 tahun dan diangkat sebagai pegawai. Ketika menjabat sbg pejabat di pemerintah pusat, ia telah mengubah berbagai buku sejarah untuk kaisar.

Pada tahun 1067, Wang Anshi, seorang pejabat senior dan juga sastrawan terkenal pada zaman itu berencana agar Kaisar Shenzong mengadakan reformasi politik yang komprehensif untuk menyelesaikan berbagai masalah ekonomi dan sosial pada waktu itu. Sima Guang menentang saran wang Anshi itu dengan alasan kekurangan perbendaharaan pemerintah. Ia pula mengeluarkan rekomendasi reformasi sendiri untuk memperbaiki sistem ekonomi yang ada.

Friday, August 6, 2010

Makam Raja Dinasti han (2)



"Pakaian Jed" yang terbuat dari bilah-bilah Jed kecil yang tipis yang masing-masing berbentuk persegi, persegi panjang, trapezium dan segi tiga. Pada setiap segi bilah Jed terdapat lubang kecil. Bilah-bilah Jed tersebut diikatkan dengan benang emas halus melalui lubang-lubang kecil tersebut. "Pakaian Jed" ini terdiri dari 5 bagian, yaitu tutup kepala, baju, celana, sarung tangan dan sepatu. "Pakaian Jed" itu sepanjang kira-kira 2 meter, terbuat dari 2,498 bilah Jed tipis dengan benang emas yang kira-kira 1.100 gram beratnya.

Menurut penelitian pakar, proses pembuatan "Pakaian Jed" sangat rumit. Terlebih lg dahulu, Jed yang besar dipotong dan diasah menjadi bilah-bilah yang tipis menurut ukuran berbeda-beda yang digunakan pada berbagai bagian "Pakaian Jed". Kemudian, setiap segi dari bilah Jed tersebut dibuat lubang kecil. Menurut pengukuran, celah gergaji antara bilah-bilah Jed pada "Pakaian Jed" hanya 0.3 milimeter saja, sedangkan garis tengah lubang bor pada segi-segi bilah Jed hanya 1 milimeter saja. Ini memperlihatkan teknologi yang sangat tinggi yang dikuasai oleh rakyat Tiongkok lebih 2 ribu tahun lalu.

Thursday, July 8, 2010

Makam Dinasti Xia barat


Pada masa lebih 770 tahun yang lalu, di Tiongkok ada terdapat 3 dinasti yaitu Dinasti Song yang didirikan oleh etnis Han di tengah Tiongkok, Dinasti Liao yang didirikan oleh etnis Nuzhen di timur laut China dan Dinasti Xixia atau Xia Barat yang didirikan oleh etnis Dangxiang di barat laut Cina.

Penemuan makam kaisar Dinasti Xia Barat merupakan hasil penemuan arkeologi penting yang dicapai oleh Arkeologi Tiongkok. Penemuan itu juga merupakan hal yang penting dalam sejarah arkeologi etnis minoritas Tiongkok.

Dinasti Xia Barat memiliki bahasa dan hurufnya sendiri. Tetapi sayangnya, setelah Kaisar Genghiskhan Mongolia mengalahkan Dinasti Xia Barat pada tahun 1227 Masehi, Genghiskhan telah membunuh semua penduduk etnis Dangxiang, huruf dan kata serta buku-buku Dinasti Xia Barat juga telah punah dan musnah.

Thursday, May 20, 2010

ChindoNews : Dinasti Song

Pada tahun 960 Masehi, Zhao Kuangyin yang disebut sebagai Kaisar Songtaizu setelah naik tkhta mendirikan Dinasti Song melalui suatu kudeta dan berakhirlah situasi terpecah belahnya Tiongkok. Dinasti Song berkuasa selama 319 tahun dalam sejarah sebelum diruntuhkan oleh Dinasti Yuan pada tahun 1279 Masehi. Dinasti Song terbagi menjadi Song Utara dan Song Selatan. Pada masa berkuasanya Dinasti Song Utara, Etnis Qidan di bagian utara Tiongkok mendirikan Negara Liao yang berkuasa antara tahun 947 dan tahun 1125 Masehi. Sedangkan Etnis Dangxiang mendirikan Negara Xixia (1038-1227) di bagian barat laut Tiongkok. Pada tahun 1115 Masehi, Etnis Nuzhen di bagian utara Tiongkok mendirikan negara Jin yang berkuasa antara tahun 1115 dan 1234 Masehi. Negara Jin yang didirikan Etnis Nuzhen membasmi Negara Liao Etnis Qidan pada tahun 1125 dan pada tahun 1127 menginvasi ke Kaifeng, ibu kota Dinasti Song dengan membajak dua kaisar Dinasti Song, yaitu Kaisar Songhui dan Kaisar Songqin. Invasi pasukan Negara Jin itu menandaskan berakhirnya Dinasti Song Utara. Setelah itu, Kaisar Song Gaozong naik takhta di Yingtianfu (Shangqiu, Propinsi Henan, Tiongkok Tengah sekarang). Kemudian ia melarikan diri ke Lin'an (Hangzhou sekarang) untuk mendirikan Dinasti Song Selatan. Zaman Dinasti Song Utara adalah masa berkonfrontasi melawan Negara Liao, Xia dan Jin, tiga pemerintahan etnis minoritas di bagian utara; sedangkan Dinasti Song Selatan merupakan masa melesat dan dinasti tersebut setelah berpindah ibu kota ke bagian selatan Tiongkok.

Setelah Dinasti Song Utara menyatukan bagian utara, Tiongkok mengalami perkembangan sangat besar di bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan. Perdagangan Tiongkok dengan luar negeri pada waktu itu juga sangat makmur. Pada Dinasti Song Utara diadakan reformasi politik oleh sebagian pejabat, namun reformasi itu gagal membantu pemerintah Dinasti Song Utara memelihara kemakmuran dalam jangka panjang biarpun berhasil menyelesaikan sejumlah kontradiksi yang terdapat pada masa itu. Pemberontakan kaum tani yang dipimpin oleh Fang La dan Song Jiang sempat menggoyahkan kekuasaan bobrok pemerintah Kaisar Song Huizong. Setelah Negara Jin Etnis Nuzhen menggulingkan pemerintah Dinasti Song Utara, pemerintah Dinasti Song yang berkuasa di bagian selatan Tiongkok sudah kehilangan ambisi untuk menyatukan kembali bagian utara. Bersamaan itu, orang Qidan di bagian utara Tiongkok mendirikan Negara Liao (947-1125 Masehi); Etnis Dangxiang mendirikan Negara Xixia (1038-1227 Masehi) di bagian barat laut Dinasti Song. Dengan demikian, terbentuklah konfigurasi berkonfrontasi antara tiga negara, yaitu Dinasti Song, Negara Liao dan Negara Xixia. Pada tahun 1115, Etnis Nuzhen mendirikan Negara Jin di bagian utara Tiongkok. Negara Jin membasmi Negara Liao pada tahun 125 dan pada tahun 1127 menyerbu masuk ke Kaifeng, ibu kota Dinasti Song dengan membajak Kaisar Song Huizong dan Kaisar Song Qin, berakhirlah pemerintah Dinasti Song Utara. Setelah itu Kaisar Song Gaozu bernama Zhao Gou naik takhta di Yingtianfu, Nanjing (Shangqiu, Propinsi Henan sekarang), kemudian melarikan diri ke Ling'an (Hangzhou sekarang). Aksi militer melawan pasukan Negara Jin yang dipimpin oleh jenderal terkenal Yue Fei dalam pandangan mata pihak penguasa hanya merupakan aksi untuk mempertahankan kekuasaannya.

Pada masa itu berkuasanya Dinasti Song, Tiongkok mencapai banyak prestasi di bidang iptek. Teknologi kompas dan cetak serta pembuatan mesiu yang merupakan tiga penemuan besar dalam sejarah diwarisi dan dikembangkan terus pada zaman itu. Di antaranya, penemuan teknologi cetak dengan huruf lepas yang diciptakan oleh Bi Sheng 400 tahun lebih awal daripada penemuan teknologi cetak huruf lepas Eropa. Su Song telah menciptakan jam astronomi yang pertama di dunia. Buku "Mengxibitan" karya Shen Kuo mempunyai kedudukan tinggi dalam sejarah iptek dunia. Kegiatan kebudayaan pada waktu itu juga sangat makmur. Agama Dao, agama Budha dan agama lainnya yang berasal dari luar negeri sangat populer pada masa itu. Sedangkan kitab sejarah "Xintangshu" yang disunting oleh Ouyang Xiu pada Zaman Dinasti Song Utara memberikan sumbangan sangat besar terhadap catatan sejarah Dinasti Tang. Kitab "Zizhi Tongjian" yang disusun oleh Sima Guang lebih-lebih adalah teladan buku kronologi. Di bidang kesusasteraan, pada masa itu muncul pengarang prosa yang terkemuka, antara lain, Ouyang Xiu dan Sushi. Sajak Songci yang muncul pada waktu itu merupakan masa emas perkembangan kesusasteraan zaman tersebut, di mana muncul banyak penyair terkenal, antara lain, Yan Shu, Liu Yong, Li Qingzhao dan Xin Qiji. Pada Zaman Dinasti Song dan Dinasti Jin kemudian, opera juga mengalami perkembangan yang sangat besar. Masa itu juga terkenal dengan lukisan yang mengutamakan isi pemandangan alam, burung dan bunga. Lukisan Qingming Shanghetu yang dari Zhang Zeduan adalah karya lukisan abadi dalam sejarah lukisan Tiongkok.

Wednesday, May 19, 2010

ChindoNews : Dinasti Yuan

Timuzhen dari Mongolia atau Temudjin mendirikan negaranya pada tahun 1206, dan pada tahun 1271, Kublai-Khan menetapkan nama negaranya sebagai Yuan, dan pada tahun 1279, menetapkan ibu kotanya di Dadu ( Beijing sekarang ) setelah mengalahkan Dinasti Song.

Bangsa Mongol semula menetap di sebelah barat Gurun Pasir, Tiemuzhen mengalahkan berbagai marga, menyatukan Mongol dan mendirikan Negara Mongol, menamakan dirinya sebagai Genghis Khan.

Tiongkok pada masa Dinasti Tang ( 618-907) dan Dinasti Song ( 960-1279) adalah negara yang paling maju di dunia, memiliki daya tarik bagi negara-negara tetangga baik di bidang ekonomi maupun kebudayaan. Pada Dinasti Yuan ( 1206-1368 ), utusan, pedagang yang timbal balik antara Timur dan Barat lebih banyak dari pada masa sebelumnya. Dinasti Yuan kerap berhubungan dengan Jepang dan berbagai negara Asia Tenggara. Pada tahun 1275, anak pedagang Venezia, Marco Polo mengikuti ayahnya berkunjung ke Tiongkok dan menetap selama 17 tahun. Marco Polo meninggalkan karyanya " Perjalanan ", salah satu dokumen penting bagi orang Barat untuk mengenal Tiongkok dan Asia.

Di bidang budaya, Melodi Yuan paling mengagumkan, tokoh representatif, antara lain Guan Hanqin dan Wang Shifu, dan karya representatif, antara lain " Dou E Yuan " dan " Xi Xiang Ji ".

Pada tahun 1333, pemberontakan kaum tani dengan agama dan persekutuan rahasia sebagai ikatan menyebar luas ke seluruh negeri. Pada tahun 1351, kaum tani buruh yang membenahi Sungai Kuning memicu pemberontakan dengan " kain merah " sebagai tandanya. Pada tahun 1341, Kepala Tentara " Kain Merah " Zhu Yuanzhang berhasil menggulingkan Dinasti Yuan dan mendirikan Dinasti Ming.

Tuesday, April 13, 2010

Dinasti Ming

Dinasti Ming didirikan pada tahun 1368 dengan ibu kotanya di Nanjing. Kaisar Ming Taizu, yaitu kaisar pertama Dinasti Ming, bernama Zhu Yuanzhang. Selama 31 tahun berkuasanya, Kaisar Ming Taizu berupaya keras memperkuat kekuasaan pemerintah pusat. Untuk mengintensifkan kekuasaannya, Kaisar Ming Taizu berturut-turut menghukum mati banyak menteri yang pernah berjasa besar terhadap Dinasti Ming. Setelah Kaisar Ming Taizu meninggal dunia, cucunya Kaisar Jian Wendi naik takhta, namun pada hari kemudian pasukannya dikalahkan oleh pasukan pimpinan pamannya yang bernama Zhu Li. Setelah naik takhta, Zhu Li menganugerahi dirinya gelar Kaisar Ming Chengzu dan memindahkan ibu kota dari Nanjing ke Beijing pada tahun 1421.

Walaupun Dinasti Ming memperkuat kekuasaan pemerintah pusat, namun banyak kaisar pada dinasti itu sangat tolol atau berusia terlalu muda untuk menangani urusan negara dengan sebaik-baiknya sehingga kekuasaan berangsur-angsur dipegang oleh pejabat kasim. Pada Dinasti Ming, orang kasim di istana bersekongkol dan mempersekusi menteri yang tulus dan jujur sehingga pemerintahan semakin bobrok dan kontradiksi sosial meruncing. Pada pertengahan masa Dinasti Ming terjadi beberapa kali pemberontakan petani, namun semuanya ditindas oleh pasukan Dinasti Ming.

Pada masa Dinasti Ming terdapat seorang negarawan bernama Zhang Juzheng. Ia mengusulkan pemerintah mengadakan reformasi untuk meredakan kontradiksi sosial dan menyelamatkan kekuasaan Dinasti Ming. Berkat reformasi yang diprakarsai oleh Zhang Juzheng, penyelenggaraan pemerintahan berhasil dibenahi, pertanian dibangkitkan, irigasi diperbaiki dan bermacam-macam pajak dapat disatukan sehingga pada derajat tertentu meringankan beban rakyat.

Pada masa Dinasti Ming, pertanian mengalami perkembangan yang lebih besar daripada di masa dinasti-dinasti sebelumnya. Selain pertanian, industri tekstil, pembuatan porselin, penambangan besi, pengecoran perunggu, pembuatan kertas dan pembuatan kapal juga mengalami perkembangan yang relatif cepat. Sementara itu, kegiatan ekonomi dan kebudayaan Dinasti Ming dengan luar negeri sangat berkembang. Yang patut disebut ialah Zheng He, pelayar terkenal Dinasti Ming. Ia berturut-turut untuk tujuh kali memimpin armada berlayar ke "Samudera Barat", yaitu Pasifik Selatan dan Barat serta Samudera India. Selama pelayarannya, Zheng He dan armadanya pernah berkunjung ke 30 lebih negara dan daerah Asia dan Afrika.

Pada masa Dinasti Ming, ekonomi komoditas mengalami perkembangan besar dan muncul benih kapitalisme. Pada awal masa Dinasti Ming, di masyarakat terdapat banyak tanah tandus tanpa pemilik. Untuk mengembangkan pertanian, Kaisar Ming Taizu memberikan tanah tandus kepada para pengungsi yang mengembara ke sana kemari supaya mereka menetap di suatu daerah. Selain itu, Kaisar Ming Taizu melaksanakan kebijakan peringanan dan pembebasan pajak pertanian sehingga jumlah petani yang memiliki tanahnya sendiri bertambah dengan besar-besaran. Pada waktu itu banyak jenis baru tanaman, antara lain, tembakau, kentang, jagung dan kacang tanah berturut-turut memasuki Tiongkok. Pada waktu itu, industri kerajinan tangan Tiongkok, antara lain, pembuatan porselin dan tekstil juga mencapai taraf yang cukup tinggi. Bahkan di Tiongkok muncul pemilik puluhan perkakas tenun dan "buruh tenun" yang khusus untuk dipekerjakan. Kesemua itu menyatakan bahwa kapitalisme sudah menunjukkan benihnya di Tiongkok. Pada masa Dinasti Ming, di daerah-daerah yang mana kaya akan produk dan mudah lalu lintasnya terbentuk banyak pusat perdagangan, baik yang besar maupun yang kecil. Kota-kota besar seperti Beijing, Nanjing, Suzhou, Hangzhou dan Guangzhou merupakan daerah yang cukup makmur di Tiongkok pada waktu itu.

Pada masa Dinasti Ming, penciptaan novel sangat makmur. Ketika itu muncul banyak novel yang terkenal, antara lain, "Tepi Air", "Sam Kok" atau "Tiga Negara", "Ziarah Ke Barat" dan "Jinpingmei". Sementara itu di Dinasti Ming muncul pula sejumlah buku yang berpengaruh cukup besar, antara lain, "Catatan Wisata Xu Xiake" di bidang geografi, "Bencao Gangmu" karya Li Shizhen di bidang kedokteran, "Kitab Ilmu Pertanian" karya Xu Guangqi di bidang pertanian, "Tian Gong Kaiwu" karya Song Yingxing di bidang industri dan kerajinan tangan serta "Ensiklopedia Yong Le", kitab literatur yang sangat berharga.

Pada masa akhir Dinasti Ming, gejala terpusatnya tanah garapan sangat serius; tanah garapan yang dimiliki oleh keluarga kekaisaran dan raja terdapat di mana-mana. Sementara itu, pajak pertanian yang dikenakan oleh pemerintah juga semakin bertambah sehingga kontradiksi sosial semakin meruncing. Sebagian pejabat berharap agar kontradiksi sosial dapat diredakan dan meminta pemerintah membendung kekuasaan istimewa yang dinikmati oleh pejabat orang kasim dan keluarga ningrat. Pejabat yang berpandangan demikian sering memberi kuliah dan komentar tentang pemerintahan dan disebut sebagai "Golongan Partai Donglin". Kemudian pejabat "Golongan Partai Donglin" mengalami persekusi oleh bangsawan dan pejabat orang kasim dan ini lebih-lebih meningkatkan ketidaktenteraman sosial.

Sementara itu, perjuangan di pedesaan juga semakin menajam. Pada tahun 1627, di Propinsi Shaanxi Tiongkok Barat Laut terjadi bencana alam, tapi pemerintah setempat tetap mengenakan pajak berat terhadap rakyat sehingga penduduk di sana mengadakan pemberontakan. Pasukan pemberontakan petani kemudian berhasil mengalahkan pasukan Dinasti Ming dan menyerbu masuk ke Beijing pada tahun 1644. Kaisar Chongzhen yang berkuasa pada masa itu terpaksa gantung diri di Beijing, berakhirlah Dinasti Ming.

Friday, March 19, 2010

Dinasti pertama di China (Dinasti Xia)

Dinasti Xia sebagai dinasti pertama dalam sejarah Tiongkok berlangsung hampir 500 tahun antara abad ke-21 dan ke-16 sebelum masehi. Wilayah sentral kekuasaannya terletak di sekitar bagian selatan Provinsi Shanxi Tiongkok Utara dan bagian barat Provinsi Henan Tiongkok Tengah. Pendiri Dinasti Xia, Da Yu adalah tokoh pahlawan sejarah yang berhasil menjinakkan banjir dan memberi kehidupan tenteram kepada rakyat. Konon, Da Yu berhasil menjinakkan Sungai Kuning yang hampir setiap tahun meluap sehingga mendapat dukungan rakyat marga dan pada akhirnya mendirikan Dinasti Xia. Berdirinya Dinasti Xia menandakan masyarakat primitif yang panjang telah digantikan oleh masyarakat sistem milik pribadi, sejak itu Tiongkok telah memasuki masyarakat sistem perbudakan. Pada masa akhir Dinasti Xia, kekacauan politik berkecamuk dalam Keluarga Kerajaan Xia dan kontrdiksi klas semakin meruncing. Khususnya Raja Xia Jie, raja terakhir Dinasti Xia setelah naik takhta hanya tahu berfoya-foya tanpa memikirkan perbaikan pemerintahan. Setiap hari ia cuma tahu minum arak dan main-main dengan selirnya tanpa peduli akan penderitaan rakyat. Menteri yang berani mengajukan nasihat segera dibunuhnya. Maka, negara-negara kepangeranan dari Dinasti Xia beramai-ramai melakukan pemberontakan. Pada saat itulah, salah satu negara kepangeranan bernama Shang mengambil kesempatan untuk menyerang pasukan Raja Xia Jie dan akhirnya berhasil mengalahkannya. Xia Jie kemudian meninggal dalam perajalanan pelariannya di Nan Cao dan tamatlah sejarah Dinasti Xia. Oleh karena bahan-bahan sejarah tentang Dinasti Xia yang tersiar sampai sekarang sangat sedikit, maka keberadaan Dinasti Xia dalam sejarah masih kontroversial sampai sekarang ini. Akan tetapi, genealogi Dinasti Xia tercatat dengan jelas dalam Catatan Sejarah, sebuah buku sejarah terkenal di Tiongkok. Para arkeolog juga ingin menggunakan instrumen arkeologi untuk menemukan peninggalan materi dan budaya Dinasti Xia, untuk seterusnya mengembalikan sejarah dinasti itu sebagai mana adanya

Sejak tahun 1959, kalangan arkeologi Tiongkok mulai melakukan penyelidikan terhadap "patilasan Dinasti Xia" untuk mencoba menguak budaya dinasti tersebut. Kini, sebagian besar ilmuwan berpendapat bahwa "Kebudayaan Erlitou" yang mendapat namanya dari patilasan Erlitou, Yanshi, Provinsi Henan Tiongkok Tengah merupakan sasaran utama penjajakan budaya Dinasti Xia. Menurut hasil pengetesan, masa keberadaan patilasan budaya itu kira-kira 1.900 tahun sebelum Masehi termasuk dalam lingkup kronologi Dinasti Xia. Walaupun sekarang masih belum ada cukup bukti langsung untuk memastikannya sebagai budaya Dinasti Xia, namun bahan arkeologi yang kaya hasil penyelidikan tersebut dengan kuat telah mendorong penjajakan budaya Dinasti Xia. Alat-alat produksi yang tergali dari patilasan budaya Erlitou terutama adalah alat-alat dari batu, alat-alat dari tulang dan kulit kerang juga masih digunakan. Di dasar sejumlah rumah, lubang abu dan dinding kubur terdapat bekas penggalian tanah dengan alat dari kayu. Dengan menggunakan alat-alat yang masih primitif itu, rakyat pekerja pada waktu itu mengembangkan kerajinan dan kecerdasannya untuk menjinakkan sungai, menggarap tanah dan mengembangkan produksi. Walaupun sampai sekarang masih belum ditemukan alat-alat perunggu yang besar di patilasan Dinasti Xia, namun di Patilasan Kebudayaan Erlitou terdapat alat-alat seperti pisau, tusuk, pahat serta senjata dan bejana dari perunggu. Sementara itu ditemukan pula bekas tempat pengecoran perunggu dan digali sisa tembikar dan perunggu serta keping ketel pengecoran. Selain itu, di Petilasan Kebudayaan Erlitou ditemukan pula banyak benda jade atau giok yang taraf seni pembuatannya cukup tinggi antara lain barang hiasan bertatahkan batu permata dan alata musik dari batu, menunjukkan teknik kerajinan tangan dan pembagian kerja intern telah mengalami kemajuan tertentu. Dalam catatan dokumen kuno, yang paling patut diperhatikan ialah tentang penanggalan Dinasti Xia. Menurut dokumen penting tentang penanggalan Dinasti Xia yang kini masih ada, terbukti orang ketika itu sudah bisa memastikan bulan menurut posisi yang ditunjukkan oleh gagang bintang kejora, itulah penanggalan paling awal di Tiongkok. Sesuai dengan urutan 12 bulan penanggalan Dinasti Xia, masing-masing tercatat astrologi, meteorologi dan lain-lain serta hal-hal yang berkaitan dengan pertanian dan pemerintahan yang perlu dikerjakan. Ini pada taraf tertentu telah mencerminkan taraf perkembangan produksi pertanian Dinasti Xia dan telah menyimpan pengetahuan ilmu yang relatif bernilai dan paling tua di Tiongkok.

Friday, March 5, 2010

Dinasti Qin

Dinasti Qin merupakan dinasti kerajaan kesatuan feodal yang pertama dalam sejarah Tiongkok. Lahirnya Dinasti Qin mempunyai arti sangat penting dalam sejarah Tiongkok.

Masa antara tahun 255 dan tahun 222 sebelum Masehi adalah Zaman Negara-negara Berperang dalam sejarah Tiongkok, juga merupakan masa akhir sistem masyarakat perbudakan. Waktu itu di Tiongkok terdapat banyak negara merdeka yang saling menyerbu dan mencaplok sehingga pada akhirnya hanya terdapat 7 negara yang besar, yaitu Qin, Qi, Chu, Wei, Yan, Han dan Zhao. Di antara 7 negara itu, Negara Qin yang terletak di bagian barat laut paling kuat karena paling awal mengadakan reformasi di bidang militer dan pertanian. Pada tahun 247 Sebelum Masehi, Yingzheng yang baru berusia 13 tahun naik takhta menjadi Raja Negara Qin, tapi baru mulai menangani urusan pemerintahan pada usia 22 tahun. Dan sejak ia mulai menangani urusan pemerintahan, Raja Yingzheng mulai melaksanakan ambisinya untuk mencaplok 6 negara yang lain dan menyatukan Tiongkok. Untuk itu, ia berusaha keras merekrut tenaga ahli yang dapat dimanfaatkannya. Misalnya, ia pernah memberikan tugas penting kepada mata-mata Negara Han bernama Zheng Guo untuk membangun "Saluran Irigasi Zheng Guo". Berkat proyek tersebut, 40 ribu qing (satu qing kira-kira sama dengan 6,6667 hektar) tanah alkali Negara Qin menjadi tanah subur tanpa terpengaruh oleh bencana kemarau dan bencana banjir, sehingga menyediakan syarat material yang cukup bagi Negara Qin untuk menyatukan Tiongkok.

Selama hampir 10 tahun antara tahun 230 dan tahun 221 sebelum Masehi, Raja Ying Zheng berturut-turut membasmi 6 negara yang lain dan berhasil menyelesaikan usaha penyatuan Tiongkok. Dengan ini berakhirlah situasi terpecah-belahnya Tiongkok dan lahirlah Dinasti Qin yang bersatu dan bersifat monarki. Yingzheng dari Dinasti Qin juga menjadi kaisar pertama dalam sejarah Tiongkok, maka sering dipanggil "Kaisar Qinshihuang", artinya kaisar pertama Dinasti Qin.

Disatukannya Tiongkok oleh Dinasti Qin mempunyai arti sangat besar dalam sejarah Tiongkok. Pertama, secara politik, Kaisar Qinshihuang membatalkan sistem pembagian wilayah kepada pangeran dan mulai melaksanakan sistem jun dan kabupaten, yaitu seluruh negeri dibagi menjadi 36 jun yang terdiri dari beberapa kabupaten. Pejabat pemerintah pusat dan daerah semuanya dilantik dan dipecat oleh kaisar, jabatan tidak boleh diwarisi. Sistem jun dan kabupaten yang dirintis oleh Dinasti Qin berkembang menjadi sistem baku dalam sejarah dua ribu tahun Tiongkok kemudian. Sekarang banyak kabupaten di Tiongkok masih menggunakan namanya yang ditetapkan pada Dinasti Qin.

Sumbangan penting lain lagi setelah penyatuan Tiongkok ialah Dinasti Qin berhasil menyatukan huruf Han atau Kanji. Sebelumnya, berbagai negara mempunyai hurufnya sendiri. Walaupun huruf-huruf Kanji itu sama asal usulnya dan hampir sama dalam ejaannya, namun perbedaannya tetap mendatangkan rintangan bagi penyebarluasan dan pertukaran kebudayaan. Setelah menyatukan Tiongkok, Dinasti Qin memerintahkan agar Huruf Kanji yang dinamakan Xiaozhuan dijadikan huruf Kanji yang dipakai di seluruh negeri. Setelah itu, perubahan huruf Kanji Tiongkok berkembang secara teratur. Ini mempunyai arti yang tak terbilang bagi pembentukan sejarah dan pewarisan kebudayaan Tiongkok.

Selain itu, Dinasti Qin menyatukan pula ukuran panjang, isi dan berat nasional. Dibanding dengan huruf Kanji, masalah ukuran lebih serius karena sebelum penyatuan, ukuran panjang, isi dan berat di berbagai negara sangat berlainan dan ini sangat merintangi perkembangan ekonomi. Sementara itu, Kaisar Qinshihuang menyatukan pula mata uang dan hukum sehingga menciptakan syarat bagi perkembangan ekonomi, juga sangat meningkatkan kedudukan pemerintah pusat.

Untuk meningkatkan kekuasaan monarki di bidang pikiran, pada tahun 213 Sebelum Masehi, Kaisar Qinshihuang memerintahkan membakar semua buku sejarah negara lain dan kitab Aliran Ru kecuali Kitab Sejarah yang disimpan oleh pejabat sejarah. Mereka yang berani menyimpan buku-buku itu bahkan dibunuh. Sementara itu, untuk menghadapi agresi kekuasaan etnis minoritas di bagian utara Tiongkok, Kaisar Qinshihuang memerintahkan menyambung tembok-tembok besar yang dibangun oleh negara-negara Qin, Zhao dan Yan pada masa lampau sehingga terbentuklah Tembok Besar sepanjang 5 ribu kilometer dari ujung barat ke ujung timur Tiongkok. Selain itu, Kaisar Qinshihuang juga mengerahkan 700 ribu tenaga dan mengalokasi dana dalam jumlah sangat besar untuk membangun Makam Gunung Lishan yang sekarang lazim disebut sebagai Makam Kaisar Qin dan prajurit dan kuda terakota Kaisar Qinshihuang.

Dengan disatukannya Tiongkok oleh Kaisar Qinshihuang, berakhir pula situasi terpecah belah Tiongkok dalam sejarah yang lama dan berdirilah satu imperium feodal multi etnis dengan etnis Han sebagai intinya. Sejak itu, terbukalah satu lembaran baru dalam sejarah Tiongkok.