Chindo News

Informasi berita, sosial, budaya, etnik, militer, teknologi, dari negara China.

Chindonews.blogspot.com

Informasi berita, sosial, budaya, etnik, militer, teknologi, dari negara China. .

China-Indonesian Information

Informasi berita, sosial, budaya, etnik, militer, teknologi, dari negara China..

Pameran Mobile

Pameran Mobil Internasional.

Pertukaran Budaya

Kebudayaan adalah sesuatu hal yang baru yang menghasilkan nilai budaya.

Wednesday, December 2, 2009

SBY Temui Liu Qi



Presiden Indonesia Sosilo Bambang Yudhoyono hari ini (1/12) di Istana Kepresidenan menemui Anggota Politbiro Komite Senteral Partai Komunis Tiongkok, Sekretaris Komite Partai Kota Beijing, Liu Qi. Kedua pihak mengadakan pembicaraan mengenai diperdalamnya kemitraan strategis Indonesia-Tiongkok serta masalah-masalah yang menjadi perhatian bersama.

Liu Qi mengatakan, partai dan pemerintah Tiongkok menaruh perhatian besar pada hubungan Tiongkok-Indonesia, bersedia terus memperluas bidang kerja sama kedua pihak, menghadapi bersama krisis moneter internasional, dan dengan lebih banyak hasil kerja sama kongkret memperpadat dan mengembangkan kemitraan strategis kedua negara.

Yudhoyono menyatakan, Indonesia dan Tiongkok mempunyai potensi kerja sama yang besar di bidang-bidang pertanian, energi dan pariwisata, meningkatkan kerja sama menguntungkan pendongkrakan ekonomi kedua negara dan bersama-sama mengatasi imbas negatif krisis moneter internasional.

Monday, November 30, 2009

Perusahaan Dan Rakyat Bakal Peroleh Manfaat dari Pembentukan CAFTA

Pakar Tiongkok untuk masalah ASEAN, Cao Yunhua hari Kamis (26/11) di Guangzhou dalam wawancara dengan wartawan berpendapat, bahwa perusahaan dan masa rakyat Tiongkok dan berbagai negara ASEAN akan memperoleh manfaat dari Kawasan Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN (CAFTA) yang akan diresmikan pada tanggal 1, Januari tahun depan.

Dikatakannya, kemudahan terbesar dari pembentukan CAFTA kepada perusahaan Tiongkok dan berbagai negara ASEAN ialah penurunan pajak dan komoditi akan memasuki pasar pihak lain dengan harga yang lebih murah. Dengan demikian, produk kedua pihak akan lebih kompetitif dibandingkan dengan produk tempat ketiga, maka akan lebih besar keuntungannya. Bagi rakyat biasa, ini berarti jenis komoditi yang dapat dipilih akan lebih banyak.

Pakar tersebut secara khusus memperingatkan, bagi perusahaan Tiongkok dan negara-negara ASEAN, yang paling penting ialah harus mengetahui peraturan terkait perdagangan tempat asalnya agar sepenuhnya memanfaatkan syarat preferensial dari CAFTA.

Sunday, November 29, 2009

Festival Upacara Adat Jadi Event Tahunan

Festival Upacara Adat Jadi Event Tahunan

Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta menggelar Festival Upacara Adat se-Provinsi DI Yogyakarta, Minggu (29/11). Kegiatan bertajuk Apresiasi dan Penguatan Kearifan Lokal ini melibatkan 10 desa wisata se-Provinsi DI Yogyakarta dan dimeriahkan oleh Bregada Prajurit Kasultanan Ngayogyakarta.
Senin, 29 November 2009 | 10:25 WIB

YOGYAKARTA, -Festival Upacara Adat yang digelar Dinas Kebudayaan Provinsi DIY di Alun-Alun Utara, Minggu, diikuti 10 kelompok desa budaya di kota/kabupaten se provinsi ini itu direncanakan menjadi kalender event tahunan.

"Kegiatan ini baru berlangsung untuk pertamakalinya dan kami berencana untuk menjadikannya sebagai kalender event tahunan," kata Kepala Dinas Kebudayaan DIY Djoko Dwiyanto di sela-sela acara Festival Upacara Adat di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, festival tersebut memiliki nilai penting sebagai sarana bagi masyarakat dapat mengapresiasi budaya sehingga masyarakat menjadi tahu, mengerti dan tertarik untuk mengetahuinya lebih dalam.

"Ketertarikan masyarakat akan membuat mereka datang ke desa budaya yang ada dan mengenal budaya mereka," katanya.

Ia menyebutkan, festival tersebut hanya diikuti separuh dari 32 desa budaya yang ada di DIY. "Kami selalu memberikan pendampingan kepada desa-desa budaya yang ada agar budaya yang dimiliki tidak punah," lanjutnya.

Djoko menegaskan, Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono (HB) X dalam sambutan pembukaan festival tersebut juga menyatakan dukungannya kepada terselenggaranya festival tersebut.

"Sultan menyatakan bahwa festival upacara adat tersebut adalah benteng ketahanan budaya yang ada di DIY," katanya mengutip kalimat Gubernur DIY.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Seni Budaya Ambarketawang Sleman Frans Haryono yang juga menjadi pimpinan rombongan upacara adat Bekakak menyatakan, event yang digelar oleh Dinas Kebudayaan DIY tersebut adalah sarana untuk pelestarian budaya masyarakat.

Ia menegaskan perlunya kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat untuk terus melakukan pelestarian budaya karena upacara adat Bekakak kini menjadi satu-satunya upacara adat yang masih bertahan di Ambarketawang.

"Untuk upacara adat yang sifatnya pribadi seperti mitoni (tujuh bulan bagi ibu hamil) atau tedhak siten (bayi yang bisa berjalan untuk pertamakali) sudah mulai jarang dilakukan masyarakat," katanya.

Ia menyatakan, dana yang dibutuhkan untuk menggelar upacara adat Bekakak cukup besar, bisa mencapai lebih dari Rp50 juta.

"Selama ini, kami berupaya untuk swadaya, selain mendapatkan bantuan dari dinas terkait di Sleman. Namun besarnya tidak banyak," katanya yang membawa 250 orang dalam rombongan tersebut.

Upacara adat Bekakak telah menjadi satu dari beberapa upacara adat lain di Sleman yang telah mengisi kalender event wisata di kabupaten tersebut. "Setidaknya dalam satu tahun sekali, upacara yang sudah dilakukan sejak Sultan HB I ini masih bisa dilakukan," katanya.

Selain Bekakak, upacara adat lain yang turut ditampilkan dalam festival tersebut adalah Cing Cing Nggoling dari Gunung Kidul yang memiliki makna ungkapan terima kasih masyarakat Gedangan kepada leluhur pendahulu yang telah berjasa membuatkan bendungan irigasi sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Peserta yang tampil dalam festival upacara adat tersebut mengemas upacara adat dalam sebuah kirab mengelilingi benteng keraton dari Kantor Pos Besar masuk Jalan KH Ahmad Dahlan, Jalan Wachid Hasyim, Jalan MT Haryono, Jalan Sutoyo, Jalan Brigjend Katamso dan masuk kembali ke Alun- Alun Utara.

Thursday, November 26, 2009

Konferensi Jaksa Agung Tiongkok dan ASEAN Digelar di Hanoi



Menurut Kantor Berita Xinhua, Konferensi Jaksa Agung Tiongkok dan ASEAN ke-6 kemarin pagi (24/11) digelar di Hanoi, Ibukota Vietnam. Pertemuan 2 hari itu akan fokus membahas peningkatan kerja sama kehakiman pidana serta pemberantasan kejahatan lintas negara secara efektif.

Hadir dalam pertemuan itu Kepala Kejaksaan Rakyat Tertinggi Tiongkok Cao Jianming serta penanggung jawab lembaga peradilan dan instansi kekejaksaan dari 10 anggota ASEAN. Cao Jianming dalam pidatonya menunjukkan, mekanisme Konferensi Jaksa Agung Tiongkok dan ASEAN adalah salah satu mekanisme dialog penting Tiongkok dan ASEAN untuk mengadakan kerja sama menyeluruh di atas dasar pembangunan kemitraan strategis berorientasi perdamaian dan kemakmuran. Instansi kejaksaan Tiongkok bersedia aktif memperluas bidang kerjasama dengan instansi kejaksaan negara-negara ASEAN, memperpadat konotasi kerjasama, meningkatkan level kerja sama, bersama-sama memberantas kejahatan lintas negara dan lintas daerah, dalam rangka memberikan sumbangan bagi pemeliharaan kemakmuran dan kestabilan di kawasan ini, dan bagi keharmonisan dan kesejahteraan rakyat negara-negara di kawasan ini.

Wednesday, November 25, 2009

Dongeng tentang Asal Usul Hari Tiong Ciu

Tanggal 15 bulan Agustus Imlek Tiongkok adalah Festival Rembulan atau hari Tiong Ciu, salah satu hari raya tradisional yang sangat penting di Tiongkok. Tiong Ciu biasanya jatuh pada pertengahan musim gugur, maka juga disebut sebagai Hari Raya Pertengahan Musim Gugur.

Kini di Tiongkok terdapat banyak peninggalan sejarah seperti "Altar Sembahyang Bulan", "Serambi Sembahyang Bulan" atau "Gedung Menikmati Bulan". Misalnya "Kuil Bulan" (月坛)yang terletak di sebelah barat kota Beijing, adalah sebuah bangunan khusus untuk upacara sembahyang kepada bulan yang dibangun pada masa Dinasti Ming (1368-1644 Masehi).

Pada Hari Tiong Ciu, biasanya orang Tiongkok menaruh meja sembahyang di halaman terbuka, dengan disedikan kue bulan, delima, kurma dan kuaci di atasnya, setelah bersembahyang kepada bulan, anggota sekeluarga duduk berkeliling di meja, makan sambil ngobrol, bersama-sama menikmati pemandangan bulan purnama.

Makan kue bulan atau Tiong Ciu Piah pada hari raya tersebut adalah adat-istiadat bangsa Tionghoa. Kue bulan yang berbentuk bulat melambangkan reunni keluarga.

Mengenai asal usulnya Hari Tiong Ciu, dongeng "Chang'e terbang ke bulan" adalah salah satu cerita yang paling popular di Tiongkok.

Konon pada zaman dahulu, di langit terdapat 10 matahari sehingga padi-padi di ladang terpanggang hangus, dan di bumi binatang ganas dan ular berbisa merajalela ke mana-mana. Waktu itu, di bumi ada seorang pahlawan yang namanya Hou Yi. Hou Yi yang pandai memanah pada suatu hari menaiki gunung Kunlun dan dengan berani memanah jatuh Sembilan dari 10 matahari di langit, dan memerintahkan satu matahari yang sisa harus naik turun sesuai dengan jadwalnya.

Sejak itulah, Hou Yi menjadi pahlawan yang sangat dihormati rakyat, kemduian dia menikahi memperisteri seorang gadis yang cantik dan baik hati, yakni Chang'e. Pasangan suami-istri itu saling cinta-mencintai, dan hidup bahagia sejak itu.

Banyak orang mengikuti Hou Yi belajar kepandaiannya, salah satu anak buahnya adalah Peng Meng, yang cukup jahat.

Suatu peristiwa, Hou Yi sempat bertemu Ibusuri Raya Langit, dan diberikan obat awet muda seumur hidup. Katanya, siapa pun yang minum obat itu bisa segera terbang ke langit dan menjadi dewa. Hou Yi tidak minum obat itu karena tidak tega meninggalkan istrinya, akhirnya obat itu disimpan oleh Chang'e. Namun hal itu diketahui oleh Peng Meng. Dia ingin mencuri obatnya.

Suatu hari, ketika Hou Yi lagi memburu di luar, Peng Meng masuk ke kamar Chang'e dengan memegang petang untuk merebut obat panjang umur itu. Untuk menjaga obat itu, Chang'e tak dapat tidak menelan obatnya, kemudian, badan Chang'e segera menjadi ringan dan mulai terbang ke langit. Karena Chang'e sangat kangen suaminya, akhirnya sang istri terbang ke bulan, bintang yang paling dekat dengan bumi.

Hou Yi pulang dan sangat sedih setelah mengetahui insiden itu, tapi penjahat Peng Meng telah kabur. Hou Yi melihat bulan sambil berteriak-teriak nama isitrinya. Tiba-tiba di mencatat, bulan di langit sangat murni dan terang, sepertinya ada satu bayangan yang mirip istrinya. Dia mencoba mengejar bulan tapi gagal

.

Hou Yi sudah putus asa, tapi tetap sangat merindukan istrinya, dia menaruh meja di halaman belakang rumahnya, menyediakan banyak manisan, dan buah-buahan yang disukai Chang'e, dia bersembayang ke bulan, tempat Chang'e tinggal.

Rakyat sesudah mengetahui Chang'e menjadi dewi di bulan, maka beramai-ramai menyediakan meja dengan sesajen untuk bersembahyang ke Chang'e.

Mulai saat itu, adat-istiadat sembahyang bulan sudah popular di Tiongkok.