Chindo News

Informasi berita, sosial, budaya, etnik, militer, teknologi, dari negara China.

Chindonews.blogspot.com

Informasi berita, sosial, budaya, etnik, militer, teknologi, dari negara China. .

China-Indonesian Information

Informasi berita, sosial, budaya, etnik, militer, teknologi, dari negara China..

Pameran Mobile

Pameran Mobil Internasional.

Pertukaran Budaya

Kebudayaan adalah sesuatu hal yang baru yang menghasilkan nilai budaya.

Thursday, April 15, 2010

Gempa Yushu - Qinghai Tiongkok

Pemerintah Provinsi Qinghai Tiongkok dalam jumpa pers siang hari ini ( 14/04 ) menyatakan, terhitung sampai hari ini pukul 13, gempa Yushu di Provinsi Qinghai sudah mengakibatkan 300 orang tewas dan 8.000 orang lainnya luka-luka.



Diberitakan, pemerintah setempat sudah mengerahkan tentara, petugas medis dan pegawai pemmerintah untuk melakukan pertolongan.



Observatorium Seismologi Tiongkok serta observatorium di provinsi-provinsi Qinghai, Shaanxi, Gansu serta Tibet, Xinjiang dan Ningxia masing-masing mengerahkan tim kerja ke lokasi gempa Yushu. Sementara itu, tim pertolongan seismologi nasional sudah siap untuk menuju ke Yushu.



Wednesday, April 14, 2010

Paviliun Organisasi Iklim Dunia

Dewan pameran Organisasi Iklim Sedunia yang mencakup area seluas 1230 meter persegi ini terletak di Kawasan B Taman Ekspo Dunia di Pudong, Shanghai. Dewan pameran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terletak di sebelah barat dewan ini.

Dewan pameran Organisasi Iklim Sedunia ini terdiri dari empat bangunan yang berbentuk bulat. Keempat "bola" yang berbeda sainznya ini terlihat seolah-olah awan yang terapung di langit. Maka dewan pameran Organisasi Iklim Sedunia ini juga dikenal sebagai "Titisan Air dari Awan"






Sup Sha Xuzhou







Kota Xuzhou, Propinsi Jiangsu, Tiongkok timur memiliki kebudayaan yang bersejarah lama. Karena terletak di jalur transisi daerah bagian utara dan selatan Tiongkok, Xuzhou sejak dahulu merupakan tempat strategis militer. Selain itu, kebudayaan makanan kecil di Xuzhou juga bersejarah lama.

Apabila Anda ingin mencicipi Sup Sha yang paling asli di Xuzhou, tempat yang paling cocok yalah Restoran Sup Sha di Lorong Mashi, Jalan Jiefang Nan, Xuzhou. Setiap hari sekitar pukul 6 sampai 7 pagi, Restoran Sup Sha pasti dipadati warga yang makan sarapan pagi. Sup Sha berwarna abu-abu dan agak kental. Begitu diaduk segera tercium bau harum.

Warga setempat Tuan Lin yang kini berusia 50 tahun lebih sering membawa ibunya yang telah berusia 80 tahun ke atas datang ke restoran tersebut untuk makan Sup Sha. Dikatakannya, semangkok Sup Sha hanya 1,3 yuan, murah dan lezat.

Tuan Lin mengatakan: "Saya sejak kecil suka makan Sup Sha, keluarga saya juga demikian. Sup ini bergizi dan enak, dan adalah makanan khas daerah. Apabila ada teman datang dari luar Xuzhou, saya pasti ajak mencicipi Sup Sha."

Wakil Manajer Restoran Sup Sha Lorong Mashi, Yin Yongxin mengatakan, restorannya dibuka mulai pukul 5 pagi sampai pukul 2 sore setiap hari. Ditambah 3 cabangnya di dalam kota, restorannya rata-rata menerima sekitar 3.000 orang setiap hari.

Kota Xuzhou disebut sebagai Kota Peng pada zaman kuno. Konon, Kota Peng adalah tempat milik bangsawan Peng Zu yang merupakan cikal bakal kuliner Tiongkok. Pada 4.300 tahun yang lampau , Peng Zu membuat sup ayam lezat dengan bahan ayam liar, obat-obatan tradisional dan jawawut. Sup ayam itu disumbangkan kepada Raja Yao yang sedang sakit. Setelah minum sup itu, Raja Yao segera sembuh, maka, menganugerahkan tanah---Kota Peng kepada Peng Zu.

Mengenai kaitan antara sup ayam yang dibuat oleh Peng Zu dan Sup Sha, penasehat senior Lembaga Kuliner Kota Xuzhou, Wang Wenzheng mengatakan: "Sama aja. Sup ayam buatan Peng Zu ---Zhigeng adalah catatan dalam buku sejarah, tapi istilah Sup Sha adalah dialeg setempat."

Setelah mengalami perubahan selama ribuan tahun, bahan Sup Sha menjadi lebih kaya dan beranekaragam, jawawut diganti menjadi beras jali dan havermot. Dan standar pengolahannya juga sangat ketat.

Selain itu, Sup Sha harus dimasak di kuali besi khusus yang di atasnya ditambah lingkar papan kayu yang disimpai dari bahan pohon willow segar supaya memperluas kapasitas kuali, sekaligus mempertahankan kehangatan dan kesegaran sup, dan wangi khusus kayu dapat meresap ke dalam sup, dengan demikian rasanya menjadi lebih segar dan lezat.

Karena resep pengolahannya ilmiah dan gizinya kaya, maka pada bulan Desember tahun 1997, Sup Sha Xuzhou dicantumkan sebagai makanan kecil Tiongkok yang terkenal dan secara resmi terdaftar dengan merek "Sup Sha Lorong Mashi" pada bulan November tahun 1999.

Sup Sha kini merupakan makanan favorit bagi warga setempat baik orang lanjut usia maupun anak-anak, baik pria maupun wanita. Manajer Restoran Sup Sha Lorong Mashi, Wang Ruyu mengatakan, sehari sebelum Hari Cengbeng tahun 2007, satu ibu dan putrinya datang ke restoran kami, mereka sudah meninggalkan Xuzhou selama belasan tahun. Mereka khusus datang berziarah ke kuburan. Pada siang hari, mereka datang ke restoran kami khusus untuk mencicipi lagi Sup Sha. Manajer Wang Ruyu mengatakan: "Putrinya bertanya kepada staf kami: 'Mbak, apakah masih ada Sup Sha? Mama saya tak pernah makan Sup Sha selama belasan tahun setelah meninggalkan Xuzhou.' "

Untuk memperkaya kehidupan warga Kota Xuzhou, lembaga kuliner Xuzhou terkait sedang berupaya mengembangkan dan mengemas produk Sup Sha supaya dapat dijual di mana-mana.

Adat istiadat yang aneka ragam di Tiongkok Barat

Adat istiadat yang aneka ragam di Tiongkok Barat

Di Tiongkok terdapat 56 etnis, etnis Han sebagai bagian yang utama, jumlah penduduknya merupakan 93% jumlah total penduduk seluruh negeri. 55 etnis lainnya disebut sebagai etnis minoritas karena jumlah penduduknya lebih sedikit dibanding etnis Han. Penduduk etnis-etnis minoritas kebanyakan bermukim di bagian barat Tiongkok. Etnis Tibet yang terutama bermukim di bagian barat daya Tiongkok, etnis Hui dan etnis Uigur yang bermukim di bagian barat laut.

Etnis Mongol dengan jumlah penduduknya lebih 4 juta jiwa, adalah salah satu etnis yang relatif banyak jumlah penduduknya di antara 55 etnis minoritas di Tiongkok. Padang rumput yang luas dan kehidupan nomadis telah mencetak watak rakyat Mongol yang gagah berani, gamblang dan antusias. Pada musim panas ketika rumput tumbuh subur dan ternak gemuk, di padang rumput dilangsungkan Festival Nadam yang tradisional. Festival Nadam adalah hari raya yang paling penting bagi rakyat etnis Mongol dalam satu tahun dan biasanya berlangsung tiga hari. Nadam dalam bahasa Mongol berarti "rekreasi dan permainan". Selama berlangsungnya Festival Nadam baik besar maupun kecil yang diadakan di berbagai tempat, pertama-tama pasti diadakan upacara sembahyang mohon diberkati cuaca yang baik dalam satu tahun. Setelah itu akan diadakan pertandingan-pertandingan seperti gulat, pacuan kuda dan panahan, yang sepenuhnya menampilkan watak gagah berani dan tangkas entis Mongol. Ketika tabir malam turun, di padang rumput terdengar irama musik yang mengalun dari Matouqin, semacam alat musik gesek Mongol. Dalam alunan musik yang merdu itu, kaum laki-laki melahap hidangan daging dan menenggak minuman keras. Sedangkan para pemudi menyanyi dan menari mengitari api unggun, semuanya berada dalam suasana riang gembira hari raya. Pada saat itu, siapa saja yang berada di tengah mereka pasti akan hanyut dalam suasana riang gembira.

Dari padang rumput Monggolia Dalam di Tiongkok Utara marilah kita sekarang menuju bagian barat daya Tiongkok yang merupakan tempat permukiman lebih 30 etnis minoritas. Di antaranya, jumlah penduduk etnis-etnis Zhuang, Yi, Miao, Tong, Yao, Bai dan Dai masing-masing melebihi satu juta jiwa. Etnis Tong berbakat di bidang musik. Bakat mereka itu tercermin dalam kor partai suara ganda tanpa iringan orkes.

Tiongkok bagian barat daya adalah daerah berbukit dan bergunung. Iklimnya relatif panas dan lembab. Rakyat dari berbagai etnis yang hidup di daerah itu mempunyai sejumlah persamaan, antara lain tinggal di rumah panggung buatan kayu atau bambu, mengenakan pakaian rajutan tangan dan gemar memakai perhiasan perak di kepala.

Provinsi Yunnan adalah provinsi yang mempunyai paling banyak etnis minoritas di Tiongkok. Jumlah etnis minoritas di provinsi itu tercatat 25, di antaranya Etnis Bai terutama bermukim di Keresidenan Otonom Etnis Bai Dali. Di keresidenan itu terdapat sebuah danau air tawar yang besar bernama Erhai dan di tepinya terdapat sebuah gunung bernama Changshan. Wisatawan dapat menumpang perahu atau kapal untuk menikmati panorama yang indah permai di danau itu, sementara menyaksikan pertunjukan tari dan nyanyi tradisional Etnis Bai sambil minum teh "Sandaocha" yang tradisional.

Menyajikan teh "Sandaocha" adalah pernyataan kehormatan tertinggi kepada tamu agung. Menurut adat istiadat setempat, tamu agung yang diterima Etnis Bai biasanya disuguhi tiga kali minuman teh khusus, bahan dan cita rasa tiga minuman teh itu berbeda-beda. Rasa "Sandaocha" sedap dan harum. Sekarang adat istiadat penyajian "Sandaocha" telah berkembang menjadi semacam tata krama budaya teh yang lengkap berciri etnis Bai.

Dengan jumlah penduduk 15 juta jiwa, Etnis Zhuang adalah etnis yang paling banyak jumlah penduduknya di antara etnis-etnis minoritas di Tiongkok. Mereka terutama bermukim di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi. Etnis Zhuang dapat disebut sebagai etnis yang paling gemar menyanyi di Tiongkok. Di pedesaan dan daerah pegunungan di mana mereka berkumkim, menyanyi adalah salah satu bagian yang tidak boleh kurang dalam kehidupan sehari-hari. Pada tanggal 3 bulan tiga penanggalan Imlek, rakyat Etnis Zhuang mengadakan lomba nyanyi dan hari itu merupakan saat paling gembira bagi mereka. Pada hari itu, rakyat Etnis Zhuang memakai pakaian yang paling indah untuk mengikuti lomba nyanyi. Untuk itu, mereka membangun paviliun dan panggung untuk menyanyi, juga diadakan acara lempar bola bersulam untuk memilih kekasih. Selain itu diadakan pula acara tari naga, seluruh warga berpesta ria paa hari itu. Tentu saja, kegiatan utama pada tanggal 3 bulan tiga adalah lomba nyanyi. Rakyat Etnis Zhuang dengan menyanyikan lagu sepuas hati menyenandungkan asmara, persahabatan dan alam raya. Mereka yang menang dalam lomba nyanyi sering kali dapat merebut pula hati sang kekasih.

Mengenai hubungan antara rakyat Etnis Zhuang dengan menyanyi, seorang penyanyi Etnis Zhuang bernama Huang Chunyan mengatakan: "Dendang di kampung halaman saya sangat merdu dan sangat banyak. Ada yang bernada tinggi, ada yang berirama lirik. Lagu-lagu itu meliputi lagu asmara, lagu anak-anak, lagu tos dan sebagainya. Kakek, nenek, ayah dan ibu saya pandai menyanyi. Saya sendiri dibesarkan di tengah kumandang dendang kampung."

Tuesday, April 13, 2010

Dinasti Ming

Dinasti Ming didirikan pada tahun 1368 dengan ibu kotanya di Nanjing. Kaisar Ming Taizu, yaitu kaisar pertama Dinasti Ming, bernama Zhu Yuanzhang. Selama 31 tahun berkuasanya, Kaisar Ming Taizu berupaya keras memperkuat kekuasaan pemerintah pusat. Untuk mengintensifkan kekuasaannya, Kaisar Ming Taizu berturut-turut menghukum mati banyak menteri yang pernah berjasa besar terhadap Dinasti Ming. Setelah Kaisar Ming Taizu meninggal dunia, cucunya Kaisar Jian Wendi naik takhta, namun pada hari kemudian pasukannya dikalahkan oleh pasukan pimpinan pamannya yang bernama Zhu Li. Setelah naik takhta, Zhu Li menganugerahi dirinya gelar Kaisar Ming Chengzu dan memindahkan ibu kota dari Nanjing ke Beijing pada tahun 1421.

Walaupun Dinasti Ming memperkuat kekuasaan pemerintah pusat, namun banyak kaisar pada dinasti itu sangat tolol atau berusia terlalu muda untuk menangani urusan negara dengan sebaik-baiknya sehingga kekuasaan berangsur-angsur dipegang oleh pejabat kasim. Pada Dinasti Ming, orang kasim di istana bersekongkol dan mempersekusi menteri yang tulus dan jujur sehingga pemerintahan semakin bobrok dan kontradiksi sosial meruncing. Pada pertengahan masa Dinasti Ming terjadi beberapa kali pemberontakan petani, namun semuanya ditindas oleh pasukan Dinasti Ming.

Pada masa Dinasti Ming terdapat seorang negarawan bernama Zhang Juzheng. Ia mengusulkan pemerintah mengadakan reformasi untuk meredakan kontradiksi sosial dan menyelamatkan kekuasaan Dinasti Ming. Berkat reformasi yang diprakarsai oleh Zhang Juzheng, penyelenggaraan pemerintahan berhasil dibenahi, pertanian dibangkitkan, irigasi diperbaiki dan bermacam-macam pajak dapat disatukan sehingga pada derajat tertentu meringankan beban rakyat.

Pada masa Dinasti Ming, pertanian mengalami perkembangan yang lebih besar daripada di masa dinasti-dinasti sebelumnya. Selain pertanian, industri tekstil, pembuatan porselin, penambangan besi, pengecoran perunggu, pembuatan kertas dan pembuatan kapal juga mengalami perkembangan yang relatif cepat. Sementara itu, kegiatan ekonomi dan kebudayaan Dinasti Ming dengan luar negeri sangat berkembang. Yang patut disebut ialah Zheng He, pelayar terkenal Dinasti Ming. Ia berturut-turut untuk tujuh kali memimpin armada berlayar ke "Samudera Barat", yaitu Pasifik Selatan dan Barat serta Samudera India. Selama pelayarannya, Zheng He dan armadanya pernah berkunjung ke 30 lebih negara dan daerah Asia dan Afrika.

Pada masa Dinasti Ming, ekonomi komoditas mengalami perkembangan besar dan muncul benih kapitalisme. Pada awal masa Dinasti Ming, di masyarakat terdapat banyak tanah tandus tanpa pemilik. Untuk mengembangkan pertanian, Kaisar Ming Taizu memberikan tanah tandus kepada para pengungsi yang mengembara ke sana kemari supaya mereka menetap di suatu daerah. Selain itu, Kaisar Ming Taizu melaksanakan kebijakan peringanan dan pembebasan pajak pertanian sehingga jumlah petani yang memiliki tanahnya sendiri bertambah dengan besar-besaran. Pada waktu itu banyak jenis baru tanaman, antara lain, tembakau, kentang, jagung dan kacang tanah berturut-turut memasuki Tiongkok. Pada waktu itu, industri kerajinan tangan Tiongkok, antara lain, pembuatan porselin dan tekstil juga mencapai taraf yang cukup tinggi. Bahkan di Tiongkok muncul pemilik puluhan perkakas tenun dan "buruh tenun" yang khusus untuk dipekerjakan. Kesemua itu menyatakan bahwa kapitalisme sudah menunjukkan benihnya di Tiongkok. Pada masa Dinasti Ming, di daerah-daerah yang mana kaya akan produk dan mudah lalu lintasnya terbentuk banyak pusat perdagangan, baik yang besar maupun yang kecil. Kota-kota besar seperti Beijing, Nanjing, Suzhou, Hangzhou dan Guangzhou merupakan daerah yang cukup makmur di Tiongkok pada waktu itu.

Pada masa Dinasti Ming, penciptaan novel sangat makmur. Ketika itu muncul banyak novel yang terkenal, antara lain, "Tepi Air", "Sam Kok" atau "Tiga Negara", "Ziarah Ke Barat" dan "Jinpingmei". Sementara itu di Dinasti Ming muncul pula sejumlah buku yang berpengaruh cukup besar, antara lain, "Catatan Wisata Xu Xiake" di bidang geografi, "Bencao Gangmu" karya Li Shizhen di bidang kedokteran, "Kitab Ilmu Pertanian" karya Xu Guangqi di bidang pertanian, "Tian Gong Kaiwu" karya Song Yingxing di bidang industri dan kerajinan tangan serta "Ensiklopedia Yong Le", kitab literatur yang sangat berharga.

Pada masa akhir Dinasti Ming, gejala terpusatnya tanah garapan sangat serius; tanah garapan yang dimiliki oleh keluarga kekaisaran dan raja terdapat di mana-mana. Sementara itu, pajak pertanian yang dikenakan oleh pemerintah juga semakin bertambah sehingga kontradiksi sosial semakin meruncing. Sebagian pejabat berharap agar kontradiksi sosial dapat diredakan dan meminta pemerintah membendung kekuasaan istimewa yang dinikmati oleh pejabat orang kasim dan keluarga ningrat. Pejabat yang berpandangan demikian sering memberi kuliah dan komentar tentang pemerintahan dan disebut sebagai "Golongan Partai Donglin". Kemudian pejabat "Golongan Partai Donglin" mengalami persekusi oleh bangsawan dan pejabat orang kasim dan ini lebih-lebih meningkatkan ketidaktenteraman sosial.

Sementara itu, perjuangan di pedesaan juga semakin menajam. Pada tahun 1627, di Propinsi Shaanxi Tiongkok Barat Laut terjadi bencana alam, tapi pemerintah setempat tetap mengenakan pajak berat terhadap rakyat sehingga penduduk di sana mengadakan pemberontakan. Pasukan pemberontakan petani kemudian berhasil mengalahkan pasukan Dinasti Ming dan menyerbu masuk ke Beijing pada tahun 1644. Kaisar Chongzhen yang berkuasa pada masa itu terpaksa gantung diri di Beijing, berakhirlah Dinasti Ming.